Bupati Ngada, Raymundus Bena menanggapi kasus seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinsial YBR (10) yang tewas bunuh diri karena diduga tidak memiliki perlengkapan sekolah.(Dok, Pribadi)
Bupati Ngada, Raymundus Bena, memberikan tanggapan terkait kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) yang diduga mengakhiri hidupnya karena keterbatasan perlengkapan sekolah. Raymundus menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, YBS dikenal sebagai anak yang ceria, rajin, aktif di sekolah, serta gemar membantu orang lain.
Karena itu, ia menilai penyebab kematian korban tidak bisa disederhanakan hanya pada persoalan tidak memiliki buku dan pulpen. Menurut Raymundus, kesimpulan tersebut masih terlalu dini dan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Ia menekankan bahwa faktor pemicu tindakan tersebut kemungkinan bersifat kompleks dan tidak berdiri pada satu alasan semata.
Raymundus juga menyinggung kondisi era keterbukaan informasi saat ini, di mana anak-anak dapat terpapar berbagai konten dari televisi maupun media digital yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan alat tulis. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Tak lama setelah itu, korban diketahui meninggal dunia karena bunuh diri dan meninggalkan sepucuk surat untuk sang ibu.
Peristiwa ini menuai perhatian luas dari masyarakat dan berbagai pihak. Bahkan, sejumlah anggota DPR mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap penyebab sebenarnya dari tragedi tersebut.
