Ilustrasi Wanita Sedang Memegang Handphone / Freepik by benzoix
Buletinmedia.com – Apakah lemari pakaian Anda didominasi warna netral dan potongan fungsional ala busana kerja? Fenomena ini dikenal sebagai commuter core, sebuah tren fashion kontemporer yang semakin populer dan kini merambah gaya berpakaian sehari-hari, bahkan di luar jam kantor.
Tren commuter core menandai pergeseran signifikan dalam dunia mode, di mana pakaian kerja yang praktis dan serbaguna menjadi pilihan utama. Gaya ini membuat palet warna lemari pakaian didominasi krem, abu-abu, hitam, dan putih, menciptakan tampilan minimalis yang efisien namun cenderung monoton.
Dari kereta komuter hingga ruang publik, gaya berpakaian ini banyak diadopsi oleh profesional muda. Mereka memilih item dasar yang mudah dipadupadankan demi tampilan rapi dan siap pakai, tanpa perlu banyak pertimbangan gaya.
Secara umum, commuter core didefinisikan sebagai gaya busana yang terinspirasi dari pakaian kerja, dengan fokus pada fungsionalitas dan keseragaman. Tak heran jika gaya ini sering dianggap “hambar”, namun tetap mendominasi tren busana harian di berbagai kota besar.
Beberapa item kunci dalam tren commuter core antara lain:
- Trench coat klasik
- Kaus putih sederhana
- Tas jinjing fungsional
- Busana warna netral seperti krem, abu-abu, hitam, dan putih
Pilihan ini mengutamakan kemudahan mix and match, sehingga satu item dapat digunakan untuk berbagai kesempatan, dari bekerja hingga aktivitas kasual.
Keserbagunaan dan kenyamanan menjadi nilai utama dalam tren ini. Banyak pakaian commuter core dibuat dari bahan yang tahan lama dan nyaman dipakai seharian, mendukung mobilitas tinggi masyarakat urban.
Salah satu faktor utama di balik populernya gaya commuter core adalah budaya kerja modern dan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Penata gaya pribadi Manisha Sabharwal menyebut tren ini dipengaruhi oleh “algoritma berpakaian”, di mana profesional muda mengonsumsi konten fashion serupa dan akhirnya tampil dengan gaya yang hampir sama.
Dari sisi ekonomi, item commuter core dianggap sebagai investasi fesyen berisiko rendah. Konsumen cenderung menghindari tren ekstrem dan memilih pakaian yang bisa menjadi bagian dari lemari kapsul yang fungsional dan tahan lama.
Selain faktor finansial, keterbatasan waktu dan beban mental juga mendorong adopsi gaya ini. Menggunakan formula pakaian yang seragam membantu menghemat waktu dan mengurangi stres dalam pengambilan keputusan harian.
Fenomena ini mengingatkan pada gaya berpakaian Steve Jobs, yang dikenal konsisten mengenakan turtleneck hitam dan jeans biru demi menghemat energi mental. Di era modern, terutama pada 2026, banyak orang mengalami tantangan serupa dalam mengelola fokus dan produktivitas.
Dengan lebih sedikit waktu untuk memilih pakaian, energi dapat dialihkan ke hal-hal yang lebih penting. Inilah yang menjadikan commuter core bukan sekadar tren fashion, tetapi juga strategi efisiensi hidup di tengah ritme urban yang cepat.
Meski saat ini mendominasi, tren commuter core diperkirakan tidak akan bertahan selamanya. Sejarah mode menunjukkan bahwa setelah periode minimalisme, biasanya muncul kebutuhan akan ekspresi diri yang lebih berani. Pasca-krisis finansial 2008 dan pandemi, misalnya, tren dopamine dressing sempat naik daun.
Banyak pengamat mode memprediksi kembalinya gaya glamor dan ekspresif, ditandai dengan bantalan bahu tegas, rok statement, kacamata hitam besar, perhiasan emas mencolok, hingga motif hewan dan kilauan di siang hari. Pergeseran ini bisa menjadi evolusi dari commuter core menuju fashion yang lebih berani dan personal.
Sumber : www.Fimela.com
