Close up shot of female pours drops in red eye, has conjuctivitis or glaucoma, bad eyesight and pain. Eyes pain treatment concept. Woman cures red blood eye
Berjam-jam menatap layar komputer telah menjadi rutinitas tak terhindarkan bagi pekerja kantoran. Di balik tuntutan target dan produktivitas, ancaman gangguan kesehatan mata kerap luput dari perhatian. Salah satunya adalah mata kering, kondisi yang dialami Farah Ferbiliana (28), karyawan swasta asal Singaraja, Bali.
Sejak 2018, Farah bekerja di ruangan tertutup dengan pendingin udara menyala hampir sepanjang hari. Aktivitasnya didominasi layar komputer selama sekitar delapan jam setiap hari. Awalnya, ia hanya merasakan mata sepet dan cepat lelah. Namun, seiring waktu, rasa kering dan tidak nyaman semakin sering muncul.
“Mulanya cuma terasa lelah. Lama-kelamaan mata jadi sering kering dan perih,” ujarnya.
Sebagai kepala administrasi cabang, Farah dituntut teliti menangani berbagai laporan, mulai dari harian, mingguan, hingga bulanan. Dalam kondisi fokus tinggi, ia kerap tidak sadar jarang berkedip. Kebiasaan inilah yang tanpa disadari memperparah kondisi matanya. “Biasanya baru terasa saat mata sudah benar-benar tidak nyaman,” kata perempuan asal Tabanan tersebut.
Dokter spesialis mata RSUD Buleleng, dr Ayu Thea Primanita Mawan SpM, menjelaskan bahwa mata kering bukan sekadar keluhan ringan. Mengacu pada American Academy of Ophthalmology, dry eye merupakan gangguan pada permukaan mata akibat ketidakseimbangan kualitas maupun jumlah air mata, dengan penyebab yang beragam.
Gejalanya kerap menyerupai iritasi ringan atau infeksi mata sehingga sering diabaikan. Padahal, pemicu mata kering bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari, seperti terlalu lama menatap layar, jarang berkedip, hingga paparan udara kering dari AC atau kipas angin—kondisi yang umum dialami pekerja di ruangan tertutup.
“Jika dibiarkan, mata kering bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga bisa berdampak pada kualitas penglihatan,” ujar dr Ayu. Ia menambahkan, gejala sepet, perih, dan lelah—yang sering dianggap wajar akibat kelelahan kerja—sebenarnya merupakan tanda awal mata kering yang perlu diwaspadai.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi waktu layar, menjaga kelembapan ruangan, rutin beristirahat, serta mencukupi asupan nutrisi seperti omega-3 yang baik untuk kesehatan mata.
Bagi Farah, menjaga mata tetap sehat menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan produktivitas kerja. Sejak 2020, ia menggunakan tetes mata Insto, termasuk varian Insto Dry Eyes, untuk membantu meredakan keluhan mata kering. “Rasanya menyegarkan dan cukup membantu saat mata mulai tidak nyaman,” ujarnya.
Insto Dry Eyes merupakan tetes mata kategori obat bebas yang telah terdaftar di BPOM. Produk ini diformulasikan untuk membantu melumasi dan melembapkan permukaan mata sehingga mengurangi gesekan serta iritasi. Sejalan dengan itu, Insto juga mengusung kampanye “Bebas Mata SePeLe” untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa mata sepet, perih, dan lelah bukan kondisi yang boleh dianggap sepele.
Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, menyebut rendahnya kesadaran masyarakat menjadi latar belakang kampanye tersebut. Hal senada disampaikan General Manager Eye Care Combiphar, Farah Feddia, yang mengungkapkan bahwa riset internal menunjukkan 4 dari 10 orang mengalami mata kering, namun setengahnya tidak menyadari kondisi tersebut. Melalui kampanye ini, Insto ingin mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mata dan tetap produktif dalam aktivitas sehari-hari.
