Pengunjuk rasa menembakan petasan ke anggota kepolisian saat aksi menuntut pengusutan kasus penabrakan pengemudi ojek daring oleh mobil rantis Brimob di depan Markas Komando Brimob Polda Metro Jaya, Kwitang, Jakarta, Jumat (29/8/2025). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Menjelang akhir 2025, Indonesia dihadapkan pada wajah bangsa yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto tampil percaya diri di panggung global dengan diplomasi yang terlihat gagah dan ambisius. Namun di sisi lain, kondisi dalam negeri justru memperlihatkan retakan serius—mulai dari kebijakan efisiensi fiskal yang menekan daerah, kenaikan pajak yang membebani rakyat, hingga gelombang protes besar akibat ketimpangan dan absennya empati elite.
Kebijakan pemotongan dana transfer daerah yang dilakukan secara drastis menimbulkan kepanikan fiskal di banyak wilayah dan berujung pada meningkatnya beban pajak masyarakat. Akumulasi ketidakadilan ini memuncak pada Agustus 2025 dalam bentuk demonstrasi nasional yang mencerminkan kemarahan kolektif rakyat terhadap jurang yang kian lebar antara elite dan kehidupan sehari-hari warga.
Di tengah gejolak domestik tersebut, pemerintah justru tampak lebih sibuk membangun citra internasional—termasuk lewat inisiatif diplomatik global seperti Gaza Plan—yang dinilai indah secara retorika namun minim dampak substantif. Ironisnya, peran kepemimpinan Indonesia di kawasan ASEAN justru melemah, ditandai dengan absennya peran signifikan dalam meredam konflik regional.
Secara ekonomi, klaim pertumbuhan 5 persen dinilai belum menyentuh akar persoalan karena ketimpangan dan pengangguran muda masih mengkhawatirkan. Di penghujung tahun, bencana banjir dan longsor di Sumatera menambah catatan kelam, yang dinilai sebagai dampak langsung dari deforestasi masif dan kegagalan tata kelola lingkungan.
Refleksi ini menegaskan bahwa kekuasaan tanpa empati, ekonomi tanpa pemerataan, dan pembangunan tanpa keberlanjutan hanya akan memperdalam luka sosial. Negara sejatinya tidak diukur dari tepuk tangan dunia, melainkan dari rasa aman dan keadilan yang dirasakan rakyatnya.
