Makanan di Antar Mengunakan Drone (Foto: Beijing Youth Daily/Getty Images)
Buletinmedia.com – Bayangkan Anda sedang menyusuri jalur menanjak di Tembok Besar China. Langkah mulai melambat, tenaga terkuras, dan rasa lapar datang tiba-tiba. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang mungkin hanya bisa menunggu hingga menemukan warung atau turun kembali ke area yang lebih mudah dijangkau. Namun, pengalaman berbeda justru terjadi di salah satu kawasan wisata paling ikonik di dunia tersebut. Kini, makanan bisa datang langsung dari langit melalui teknologi drone.
Momen unik ini menjadi perbincangan luas setelah sebuah video viral beredar di media sosial. Dalam video tersebut, seorang wisatawan terlihat kelelahan dan mengeluhkan rasa lapar saat berada di jalur wisata kawasan Badaling, salah satu bagian populer dari Tembok Besar. Alih-alih mencari tempat makan, ia memilih memesan makanan secara daring. Tak lama kemudian, sebuah drone terlihat terbang mendekat sambil membawa pesanannya.
Peristiwa tersebut sontak menarik perhatian publik. Banyak yang terkesan melihat bagaimana teknologi mampu menjawab tantangan geografis di lokasi wisata yang sulit dijangkau kendaraan. Kawasan pegunungan dan jalur berbatu yang biasanya menyulitkan distribusi logistik kini bisa diatasi dengan kehadiran drone.
Video pengiriman makanan menggunakan drone di kawasan Badaling itu dengan cepat menjadi viral. Tayangan tersebut telah ditonton jutaan kali dan menuai ratusan ribu tanda suka. Tidak sedikit warganet yang mengaku kagum dengan kemudahan yang ditawarkan, sekaligus penasaran bagaimana sistem tersebut bekerja di lapangan.
View this post on Instagram
Inovasi ini merupakan bagian dari layanan yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal China, Meituan. Selama ini, Meituan dikenal sebagai salah satu platform pesan-antar makanan terbesar di negara tersebut. Namun, melalui pengembangan teknologi drone, perusahaan ini membawa konsep layanan mereka ke tingkat yang lebih maju.
Layanan pengiriman makanan dengan drone sebenarnya telah diperkenalkan sejak 2024. Sejak awal peluncurannya, teknologi ini dirancang untuk menjangkau area yang sulit diakses oleh kurir konvensional. Dalam konteks Tembok Besar China, inovasi ini menjadi solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan wisatawan tanpa harus mengorbankan waktu dan tenaga.
Cara kerjanya cukup menarik. Pesanan yang dibuat oleh pengguna akan diproses di depot atau titik distribusi tertentu. Dari sana, drone akan membawa paket menuju titik pendaratan yang telah ditentukan, biasanya berada di area menara pengawas. Setelah mendarat, petugas akan mengambil paket dan menyerahkannya langsung kepada pelanggan.
Meski belum sepenuhnya otomatis dari restoran ke tangan pengguna, sistem ini terbukti mampu memangkas waktu pengiriman secara signifikan. Jika sebelumnya kurir harus berjalan kaki hingga 40 hingga 50 menit untuk mencapai lokasi di jalur wisata, drone dapat menyelesaikan perjalanan tersebut hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Efisiensi waktu ini menjadi salah satu keunggulan utama layanan drone. Selain itu, drone yang digunakan juga memiliki kapasitas angkut yang cukup memadai, yakni hingga 2,3 kilogram dalam satu kali penerbangan. Kapasitas tersebut sudah cukup untuk membawa makanan, minuman, bahkan kebutuhan ringan lainnya seperti obat-obatan.
Menariknya, saat pertama kali diuji coba, layanan ini sempat diberikan secara gratis kepada pengguna. Namun, setelah resmi beroperasi, biaya pengiriman tetap terbilang terjangkau. Dengan tarif sekitar 4 yuan atau setara kurang lebih Rp10.000, layanan ini tidak jauh berbeda dengan ongkos kirim biasa di perkotaan.
Keberhasilan layanan ini tidak hanya berhenti di kawasan wisata Tembok Besar. Penggunaan drone untuk pengiriman barang kini mulai diperluas ke berbagai kota di China. Perusahaan seperti Meituan bahkan telah mengoperasikan puluhan rute drone dengan jumlah pengiriman mencapai ratusan ribu.
Fenomena ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah China dalam mengembangkan konsep yang dikenal sebagai ekonomi ketinggian rendah atau low-altitude economy. Konsep ini merujuk pada pemanfaatan ruang udara di bawah ketinggian tertentu, biasanya di bawah 1.000 meter, untuk mendukung aktivitas ekonomi berbasis teknologi penerbangan ringan.
Dalam praktiknya, ekonomi ketinggian rendah tidak hanya mencakup drone, tetapi juga teknologi lain seperti kendaraan udara listrik lepas landas vertikal atau eVTOL. Pengembangan teknologi ini melibatkan berbagai perusahaan rintisan serta pusat inovasi di sejumlah kota besar, termasuk Hefei.
Pemanfaatan drone dalam sektor logistik menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan ini. Selain untuk pengiriman makanan, drone juga mulai digunakan untuk distribusi barang di daerah terpencil, pengiriman medis darurat, hingga kebutuhan industri lainnya.
Di sisi lain, kehadiran layanan ini juga membawa perubahan pada pengalaman wisata. Wisatawan kini tidak hanya datang untuk menikmati keindahan dan nilai sejarah suatu tempat, tetapi juga merasakan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi modern. Kombinasi antara warisan budaya dan inovasi digital menciptakan pengalaman baru yang lebih praktis dan menarik.
@chinatravelwithfrida What…? Food delivery by drone on the Great Wall of China? 🤯 #china #chinatravel #beijingtravel #thegreatwall #fooddelivery ♬ Rock That Body – The Black Eyed Peas
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Penggunaan drone dalam skala besar membutuhkan regulasi yang jelas, terutama terkait keselamatan penerbangan dan perlindungan lingkungan. Selain itu, pengelolaan lalu lintas udara di area wisata juga menjadi hal penting agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.
Meski demikian, langkah yang diambil China menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Inovasi seperti ini membuka peluang baru bagi berbagai sektor, mulai dari pariwisata hingga logistik.
Ke depan, bukan tidak mungkin layanan serupa akan diterapkan di berbagai negara lain, terutama di kawasan wisata yang memiliki tantangan geografis serupa. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pengiriman barang melalui udara berpotensi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Apa yang terjadi di Tembok Besar China menjadi contoh nyata bagaimana inovasi mampu mengubah cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dari jalur bersejarah yang dahulu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, kini menjadi lokasi di mana teknologi canggih hadir untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.
Fenomena drone pengantar makanan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan gambaran masa depan layanan logistik yang lebih cepat, efisien, dan adaptif. Di tengah perkembangan dunia digital, inovasi seperti ini menjadi bukti bahwa batas antara kenyamanan dan keterbatasan perlahan mulai hilang.
Sumber : www.kompas.com
