Buletinmedia.com – Lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, tengah menjadi perbincangan luas di masyarakat. Lagu berbahasa Sunda tersebut ramai diperbincangkan setelah potongan liriknya tersebar di berbagai platform media sosial dan menuai beragam reaksi dari publik.
Karya musik yang awalnya diperkenalkan dalam sebuah kegiatan budaya tersebut menjadi sorotan karena sejumlah bagian liriknya dinilai mengandung narasi yang dianggap menyentuh isu sensitif mengenai perempuan. Beberapa pihak menilai lirik lagu tersebut mengandung stereotip gender dan dianggap kurang memperhatikan perspektif perempuan.
Di sisi lain, terdapat pula masyarakat yang melihat lagu tersebut sebagai bentuk ekspresi pribadi dengan balutan humor khas Sunda. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian membuat lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” menjadi perbincangan hangat di ruang publik.
Lagu tersebut tidak hanya menarik perhatian karena diciptakan oleh seorang kepala daerah, tetapi juga karena isi liriknya yang memunculkan diskusi mengenai batas antara karya seni, humor, budaya, serta penghormatan terhadap kelompok tertentu.
Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” Viral di Media Sosial
Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” mulai dikenal publik setelah Om Zein mengunggah video penampilannya melalui akun TikTok pribadinya. Dalam unggahan tersebut, lagu berbahasa Sunda itu langsung menarik perhatian warganet dan mendapatkan berbagai komentar.
Video lagu tersebut memperlihatkan Om Zein membawakan karya yang mengangkat sudut pandang seorang laki-laki. Liriknya berisi perbandingan mengenai pengalaman biologis dan kehidupan antara laki-laki dan perempuan.
Seiring penyebarannya di media sosial, banyak pengguna internet memberikan tanggapan berbeda. Sebagian mempertanyakan pemilihan kata dalam lagu tersebut, sementara sebagian lainnya mencoba memahami konteks dan maksud dari karya yang dibuat.
Perdebatan semakin berkembang karena lagu tersebut tidak hanya dinilai sebagai karya musik biasa, melainkan dikaitkan dengan posisi Om Zein sebagai seorang pejabat publik.
Lirik Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”
Berikut penggalan lirik lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” beserta arti dalam bahasa Indonesia:
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki
Cacak mun jadi awewe
Andai saja menjadi perempuan
SMP kelas tilu
SMP kelas tiga
Tos karuron tujuh kali
Sudah keguguran tujuh kali
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki
Teu kudu meuli kutang
Tidak perlu membeli bra
Nu busana leuwih gede batan susu
Yang ukurannya lebih besar dari payudara
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Tidak perlu pergi ke apotek
Alatan telat bulan
Karena terlambat menstruasi
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Tidak perlu menggambar alis dan bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta
Sekali berkedip sulit membuka mata
Lalaki langit
Lelaki langit
Lalanang bejat
Lelaki bejat
Lirik tersebut menjadi bagian yang paling banyak dibahas karena memuat perbandingan pengalaman laki-laki dan perempuan dengan menggunakan pendekatan humor.
Kontroversi Lirik Lagu yang Menyinggung Isu Perempuan
Sejumlah masyarakat menilai beberapa bagian dalam lagu tersebut dianggap kurang sensitif karena membahas persoalan biologis perempuan seperti menstruasi, kehamilan, hingga keguguran sebagai bagian dari materi humor.
Bagi pihak yang memberikan kritik, persoalan utama bukan hanya mengenai isi lagu, tetapi juga bagaimana isu perempuan digambarkan dalam sebuah karya yang dibuat oleh seorang pejabat publik.
Perdebatan kemudian mengarah pada pembahasan mengenai kebebasan berekspresi dalam seni. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa karya musik memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman pribadi maupun kritik sosial. Namun, sebagian lainnya menilai bahwa setiap karya tetap perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok tertentu.
Dalam konteks budaya Sunda, sejumlah pihak juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kesopanan dan penghormatan terhadap sesama.
Awal Kemunculan Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”
Sebelum menjadi viral, lagu tersebut pertama kali diperkenalkan dalam kegiatan Hajat Bumi di Lingga Mukti. Saat itu, lagu tersebut disebut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Om Zein kemudian membagikan video lagu tersebut melalui akun TikTok pribadinya pada 18 Januari 2026. Setelah diunggah, video tersebut mendapat perhatian dari banyak pengguna media sosial.
Berbagai komentar muncul dalam unggahan tersebut. Ada warganet yang mempertanyakan maksud dari lirik lagu, ada pula yang menyampaikan kritik terhadap isi karya tersebut.
Beberapa komentar menyebutkan bahwa lagu tersebut dianggap kurang tepat karena membawa isu perempuan dalam bentuk candaan. Namun, ada juga pengguna yang meminta masyarakat melihat konteks keseluruhan lagu sebelum memberikan penilaian.
Kritik Atalia Praratya terhadap Lagu Om Zein
Salah satu kritik terhadap lagu tersebut datang dari anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia menyampaikan pandangannya mengenai isi lagu tersebut.
Menurut Atalia, dirinya tidak menemukan nilai penghormatan terhadap perempuan dalam beberapa bagian lirik lagu tersebut.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.
Ia menilai persoalan tersebut bukan hanya mengenai selera musik atau kebebasan berekspresi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana sebuah karya menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Atalia juga mengaitkan hal tersebut dengan nilai budaya Sunda yang menurutnya memiliki prinsip silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.
Menurutnya, budaya Sunda selama ini dikenal dengan nilai saling menghormati dan menjaga perasaan orang lain. Oleh karena itu, ia mempertanyakan pemilihan narasi yang dianggap berpotensi merendahkan pengalaman biologis perempuan.
Atalia juga menyoroti tantangan dalam melawan budaya patriarki yang masih terjadi di masyarakat.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” ungkapnya.
Om Zein Sampaikan Permintaan Maaf
Setelah lagu tersebut menuai berbagai tanggapan, Om Zein akhirnya memberikan klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.
Ia mengatakan bahwa lagu tersebut tidak dibuat dengan tujuan untuk menyakiti atau menyinggung pihak tertentu.
“Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu, itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” ujar Om Zein.
Menurutnya, lagu tersebut merupakan bentuk ekspresi pribadi yang dibuat berdasarkan sudut pandangnya sendiri.
Permintaan maaf tersebut menjadi respons atas berbagai kritik yang muncul setelah lagu tersebut menyebar luas di media sosial.
Perdebatan Mengenai Seni, Humor, dan Sensitivitas Sosial
Kasus lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” kembali membuka diskusi mengenai bagaimana sebuah karya seni diterima oleh masyarakat.
Dalam dunia seni, kebebasan berekspresi menjadi salah satu hal penting. Namun, karya yang dipublikasikan kepada masyarakat luas juga tidak terlepas dari berbagai interpretasi dan tanggapan.
Sebuah lagu dapat memiliki makna berbeda bagi setiap pendengar. Apa yang dianggap sebagai humor oleh sebagian orang, bisa saja dipandang sebagai sesuatu yang sensitif oleh pihak lain.
Terlepas dari berbagai pandangan yang muncul, lagu karya Bupati Purwakarta tersebut telah menjadi salah satu karya yang paling banyak diperbincangkan karena mengangkat isu mengenai hubungan antara seni, budaya, serta cara masyarakat memandang isu gender.
Hingga kini, perdebatan mengenai lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” masih menjadi perhatian publik, terutama terkait bagaimana sebuah karya seni dapat menyampaikan pesan tanpa mengabaikan nilai penghormatan terhadap kelompok tertentu.
Sumber : www.detik.com
