Dua Pelajar Tenggelam di Sungai Cisanggaraung, Pencarian Masih Berlangsung (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Peristiwa dua pelajar sekolah menengah pertama yang hilang dan diduga tenggelam di Sungai Cisanggaraung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi perhatian masyarakat sekaligus menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Kejadian yang berlangsung pada Kamis siang itu bermula dari aktivitas sederhana sepulang sekolah yang berujung petaka.
Menurut informasi yang dihimpun di lokasi, kedua korban diketahui tengah bermain bersama sejumlah teman di pinggiran sungai. Aktivitas tersebut awalnya berlangsung seperti biasa, tanpa tanda-tanda bahaya. Namun situasi berubah ketika dua pelajar, yakni Adit dan Hakim, memutuskan untuk berenang ke bagian tengah sungai yang memiliki arus lebih kuat.
Diduga kuat, keduanya terseret arus bawah yang cukup deras. Kondisi arus di Sungai Cisanggaraung memang dikenal tidak stabil, terutama di bagian tengah yang memiliki kedalaman dan tekanan air lebih besar. Tanpa disadari, arus bawah tersebut menyeret tubuh korban hingga akhirnya hilang dari permukaan.
Rekan-rekan korban yang berada di tepi sungai langsung panik saat menyadari keduanya tidak lagi terlihat. Mereka segera berusaha mencari, namun tidak menemukan hasil. Dalam kondisi cemas, para saksi kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada warga sekitar yang langsung berdatangan ke lokasi.
Kabar hilangnya kedua pelajar ini dengan cepat menyebar dan sampai ke pihak keluarga. Suasana haru pun tak terelakkan. Tangis dan kecemasan menyelimuti keluarga korban yang berharap keajaiban agar anak-anak mereka segera ditemukan dalam kondisi apa pun.
Salah satu korban, Adit, diketahui merupakan warga Desa Pakusambeng, Kecamatan Babakan. Keluarganya langsung menuju lokasi setelah menerima kabar tersebut. Bahkan, sejak Rabu petang, pihak keluarga memilih bertahan di sekitar sungai dengan harapan proses pencarian segera membuahkan hasil.
Kepala Desa Pakusambeng, Arif Solihun, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban sempat berpamitan kepada orang tua untuk bermain. Tidak ada firasat apa pun yang mengarah pada peristiwa tragis ini. Aktivitas bermain air di sungai memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi anak-anak di wilayah tersebut.
“Korban berpamitan kepada orang tua untuk bermain, namun setelah pulang sekolah ia bersama temannya bermain air di tepi sungai. Keduanya diduga terseret arus bawah yang kuat hingga hilang dan tenggelam, sementara teman-temannya yang panik segera melaporkan kejadian itu kepada warga setempat,” ujar Arif.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim SAR gabungan langsung diterjunkan ke lokasi. Tim ini terdiri dari berbagai unsur, mulai dari Basarnas, BPBD, Tagana, hingga personel TNI dan Polri. Mereka bekerja sama untuk melakukan pencarian secara intensif di titik awal korban dilaporkan tenggelam.
Proses pencarian dilakukan dengan berbagai metode. Petugas menggunakan dua perahu karet untuk menyusuri aliran sungai, sementara tim penyelam diterjunkan untuk menyisir dasar sungai. Kedalaman Sungai Cisanggaraung di lokasi kejadian diperkirakan mencapai sekitar enam setengah meter, dengan kontur dasar yang cukup kompleks.
Selain itu, petugas juga menyebar personel di sepanjang aliran sungai guna memantau kemungkinan korban terbawa arus ke lokasi yang lebih jauh. Lebar sungai yang mencapai hampir 30 meter menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian.
Kapolsek Waled, AKP M. Fadholi, menjelaskan bahwa pencarian difokuskan pada titik awal kejadian. Tim masih berupaya melakukan penyelaman sebelum memperluas area pencarian. Hal ini dilakukan untuk memastikan kemungkinan korban masih berada di sekitar lokasi awal.
“Untuk proses pencarian difokuskan di titik awal korban dilaporkan tenggelam. Kita lakukan penyelaman dan belum memperluas pencarian. Kendala memang tidak ada, hanya saja kita melakukan pemetaan terhadap batu dan pipa yang ada di sungai. Korban sendiri berjumlah dua orang,” jelasnya.
Meski demikian, proses pencarian tidak berjalan mudah. Arus bawah yang cukup kuat menjadi kendala utama bagi tim di lapangan. Selain itu, kondisi dasar sungai yang dipenuhi bebatuan, kayu, serta pipa membuat pergerakan tim penyelam menjadi terbatas.
Faktor-faktor tersebut memperlambat proses pencarian dan meningkatkan tingkat kesulitan dalam menemukan korban. Meski begitu, tim SAR tetap berupaya maksimal dengan mengedepankan keselamatan personel sekaligus efektivitas pencarian.
Hingga Kamis siang, pencarian masih belum membuahkan hasil. Namun, pihak berwenang memastikan bahwa upaya pencarian akan terus dilanjutkan hingga korban ditemukan. Koordinasi lintas instansi juga terus diperkuat agar proses evakuasi dapat berjalan lebih cepat dan terarah.
Di sisi lain, keluarga korban masih setia menunggu di lokasi. Harapan dan doa terus dipanjatkan agar kedua pelajar tersebut segera ditemukan. Dukungan dari warga sekitar juga terus mengalir, menciptakan suasana kebersamaan di tengah duka yang dirasakan.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai di area sungai, terutama bagi anak-anak. Arus bawah yang tidak terlihat sering kali menjadi ancaman serius, bahkan bagi mereka yang terbiasa bermain di air. Tanpa pengetahuan dan pengawasan yang memadai, risiko kecelakaan bisa terjadi kapan saja.
Penting bagi orang tua dan masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, khususnya di lokasi berisiko seperti sungai. Edukasi mengenai bahaya arus bawah dan pentingnya keselamatan saat bermain air perlu terus disampaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Selain itu, peran pemerintah dan pihak terkait dalam menyediakan informasi serta rambu peringatan di area rawan juga sangat dibutuhkan. Dengan adanya langkah-langkah preventif, diharapkan risiko kecelakaan dapat diminimalkan.
Kejadian di Sungai Cisanggaraung ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga pelajaran bagi semua pihak. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas, terutama dalam aktivitas yang melibatkan risiko tinggi.
Di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung, harapan tetap ada. Semua pihak berharap agar kedua korban segera ditemukan, sehingga keluarga dapat memperoleh kepastian dan ketenangan. Hingga saat itu tiba, doa dan dukungan terus mengalir untuk mereka yang tengah menghadapi masa sulit ini.
