Pria dengan tote bag, suka matcha, dan baca buku feminisme sedang jadi tren. Mereka disebut sebagai performative male. Apa maksudnya?(Dok. Unsplash/Nada)
Buletinmedia.com – Jika kamu pernah melihat pria membawa tote bag berbahan kanvas, minum matcha, dan membaca buku tentang feminisme, besar kemungkinan kamu sudah mengenal tren performative men. Istilah ini tengah viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Bahkan, kontes bertema performative male sudah diadakan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Tren ini menunjukkan bagaimana sebagian laki-laki muda mencoba menampilkan citra yang berbeda dari maskulinitas tradisional demi menarik perhatian perempuan modern.
Performative men biasanya adalah pria berusia 20-an yang berusaha keras tampil artistik, emosional, dan intelektual. Mereka menggantikan stereotip pria maskulin yang kaku dengan gaya yang lebih sensitif, seperti memilih minum matcha daripada kopi biasa, mengenakan kaus dengan logo band atau ikon pop culture yang tidak umum, serta membaca buku feminisme. Tindakan mereka tampak seperti upaya menciptakan citra diri yang “autentik,” meskipun beberapa orang menilai hal itu lebih karena ingin “tampil” di mata orang lain.
Fenomena ini juga dianggap sebagai bentuk upaya menyelaraskan maskulinitas dengan kerentanan atau vulnerability. Para performative men berani mengekspresikan emosi dan sisi intelektualnya, melampaui pandangan lama soal pria yang harus kuat dan tertutup. Mereka mencoba membuktikan bahwa laki-laki bisa terbuka dan peka tanpa kehilangan jati diri. Dengan demikian, tren ini menandakan perubahan dalam cara laki-laki mengekspresikan diri di era modern.
Namun, tidak semua orang melihat tren ini secara positif. Ada kekhawatiran bahwa sebagian pria menggunakan persona performative men hanya sebagai alat untuk menarik perhatian atau bahkan memanipulasi perempuan. Dalam hubungan, kerentanan yang ditampilkan kadang bisa menjadi alat untuk mengendalikan atau mempengaruhi pasangan secara emosional. Karena itu, meskipun tampil lebih “mudah didekati,” perempuan tetap harus waspada dan menjaga batas agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi.
Secara keseluruhan, tren performative men mencerminkan perubahan besar dalam ekspresi maskulinitas yang semakin beragam. Meski membawa nuansa positif berupa keterbukaan emosional dan kepekaan, tren ini juga mengingatkan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan dalam menjalin hubungan. Perempuan diimbau untuk bijak melihat sikap dan motif di balik persona tersebut agar hubungan yang terjalin tetap sehat dan autentik.
