Gambar: rafastockbr / Shutterstock.com
Buletinmedia.com – Meski YouTube telah menjalin kerja sama resmi dengan banyak studio film Hollywood, platform ini masih dibanjiri ribuan konten bajakan. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru dari Adalytics, yang awalnya bertujuan mengevaluasi efektivitas iklan digital. Namun dalam prosesnya, mereka menemukan ribuan film ilegal yang tersebar luas di YouTube.
Adalytics mengklaim menemukan lebih dari 9.000 pelanggaran hak cipta di platform milik Google itu. Konten bajakan tersebut mencakup film bioskop terbaru, serial TV populer, hingga tayangan eksklusif Netflix. Bahkan beberapa film yang masih tayang di bioskop pun sudah beredar dalam versi penuh di YouTube. Salah satu contohnya adalah Lilo & Stitch (rilis Mei 2025), yang sudah ditonton lebih dari 200 ribu kali.
Temuan ini dinilai sangat merugikan industri film. Video-video ilegal yang diunggah antara Juli 2024 hingga Mei 2025 itu telah mengumpulkan lebih dari 250 juta tayangan. Jumlah ini tentu mengindikasikan kerugian besar bagi pemegang hak cipta, termasuk studio besar seperti Disney.
Menanggapi hal ini, YouTube mengandalkan sistem Content ID teknologi sidik jari digital yang dirancang untuk mendeteksi dan mengelola pelanggaran hak cipta. Namun menurut pendiri Adalytics, Kryzsztof Franaszek, sistem ini belum berjalan optimal dan banyak konten bajakan yang luput terdeteksi. Ia menilai kelemahan ini menjadi celah serius dalam perlindungan hak cipta digital.
YouTube membantah tuduhan tersebut. Juru bicara mereka, Jack Malon, menyebut bahwa Content ID berhasil mendeteksi lebih dari 2,2 miliar pelanggaran pada tahun 2024. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar pelanggaran tidak langsung dihapus, melainkan dimonetisasi untuk pemilik hak cipta resmi. Menurut Malon, laporan Adalytics dianggap sebagai strategi pemasaran yang menyesatkan demi menarik perhatian klien baru.
