Foto ilustrasi jemaah haji sedang beribadah di depan Ka'bah (Unsplash/Ishan @seefromthesky)
Buletinmedia.com – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 2025, suhu udara di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Arab Saudi, diperkirakan meningkat drastis hingga mendekati 50 derajat Celsius pada Senin (26). Kondisi ini menimbulkan risiko kesehatan serius bagi jamaah, terutama saat prosesi wukuf. Oleh karena itu, jamaah diminta untuk membatasi aktivitas di luar ruangan atau tenda.
Panas ekstrem ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti serangan panas (heatstroke), dehidrasi, serta kelelahan. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, menyampaikan bahwa suhu di Armuzna kemungkinan mencapai 50°C dengan kelembapan yang sangat rendah, di bawah 30 persen.
Kamaruddin mengingatkan jamaah lansia untuk menghindari paparan sinar matahari secara langsung dan tetap berada di dalam tenda kecuali untuk keperluan mendesak, seperti ke toilet. Ia juga menganjurkan agar jamaah yang memiliki riwayat penyakit atau berusia lanjut rutin memeriksakan diri ke dokter dan menjaga hidrasi dengan cukup minum air.
Seera Safira, seorang jamaah asal Jakarta, mengungkapkan bahwa dirinya telah mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem di Armuzna, tidak hanya secara fisik tetapi juga dengan membawa berbagai perlengkapan seperti losion pelindung kulit, pakaian yang mudah menyerap keringat, kipas portabel, payung, serta obat-obatan pribadi.
Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan layanan kesehatan terintegrasi digital yang beroperasi penuh 24 jam di Mina. Sistem ini memfasilitasi pengambilan keputusan medis secara cepat melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Hingga saat ini, lebih dari 81.000 layanan telah diberikan kepada jamaah.
Sebagai bagian dari inovasi, drone digunakan untuk mempercepat pengiriman obat ke titik-titik layanan. Menurut Noval Aljuran, CEO Pusat Rujukan Medis Kementerian Kesehatan Arab Saudi, waktu pengiriman obat yang sebelumnya mencapai lebih dari satu jam kini bisa dipangkas menjadi enam menit, membantu mempercepat penanganan medis di lapangan. Ia mengimbau jamaah agar tetap waspada terhadap penyakit akibat cuaca panas, banyak beristirahat, dan menjaga asupan cairan.
