Duel udara pemain Timnas Indonesia Elianor Reijnders (8) dan para pemain Bahrain pada pertandingan lanjutan ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Selasa (25/3/2025) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.(KOMPAS.com/ADIL NURSALAM)
Sanksi keras dari FIFA kembali mengetuk kesadaran PSSI, menyusul perilaku tidak sportif sebagian suporter Indonesia dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bahrain pada 25 Maret lalu. Laga yang seharusnya menjadi ajang unjuk kualitas justru menimbulkan kerugian besar, bukan hanya dari segi citra tetapi juga secara finansial dan teknis.
FIFA mencatat adanya tindakan diskriminatif bernuansa xenophobia dalam pertandingan tersebut, yaitu sikap kebencian terhadap negara atau budaya lain. Akibatnya, PSSI tak hanya harus membayar denda hampir setengah miliar rupiah, tetapi juga menerima sanksi berupa pengurangan kapasitas stadion untuk laga Timnas berikutnya.
💸 Setengah Miliar Melayang, Kursi Kosong Mengintai
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, mengonfirmasi bahwa denda mencapai lebih dari Rp400 juta. Selain itu, dalam laga krusial melawan China pada 5 Juni 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, PSSI diwajibkan menutup 15 persen kapasitas kursi penonton, sehingga stadion tidak akan bisa dipadati sebagaimana biasanya.
“Ini bukan sekadar peringatan administratif. Ini bentuk teguran keras dari FIFA atas perilaku suporter kita,” tegas Arya dalam pernyataan resminya yang dirilis Minggu (11/5).
📣 Bung Kus: Fanatisme yang Tak Dikendalikan Bisa Jadi Bencana
Pengamat sepak bola nasional, Muhamad Kusnaeni, menganggap bahwa sanksi ini harus dijadikan momentum introspeksi. Menurutnya, fanatisme suporter Indonesia yang selama ini dikenal membara dan mengagumkan telah menjadi sorotan internasional—namun juga mulai memberi dampak negatif jika dibiarkan liar.
“Fanatisme suporter kita sudah jadi pembicaraan dunia,” ujar pria yang akrab disapa Bung Kus itu. “Tapi kalau tidak dikendalikan, ini akan jadi senjata makan tuan.”
Ia mengamati bahwa bentuk fanatisme berlebihan kini bahkan menjalar hingga dunia maya. Di media sosial, perdebatan tak jarang berubah menjadi serangan personal, ujaran kebencian, hingga pembentukan opini ekstrem yang tidak sehat bagi iklim olahraga.
📚 Solusinya: Edukasi, Bukan Sekadar Euforia
Bung Kus menegaskan bahwa edukasi terhadap suporter harus dilakukan secara konsisten dan sistematis. Menurutnya, ini bukan hanya tugas federasi, tapi perlu melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh, baik dari kalangan pemain nasional maupun figur publik yang memiliki daya pengaruh luas.
“Jangan hanya edukasi menjelang pertandingan besar. Harus berkesinambungan. Bangun kultur suportif lewat kampanye positif yang digerakkan oleh para pemain dan publik figur,” katanya.
🔄 Momentum untuk Berbenah
Kasus ini menjadi cermin penting bahwa keberhasilan sepak bola Indonesia bukan hanya urusan taktik dan skor akhir, tetapi juga perilaku penontonnya. Dukungan di tribun harus selaras dengan nilai-nilai sportivitas dan saling menghargai. Karena jika tidak, semangat nasionalisme justru bisa berubah menjadi bumerang yang memalukan di mata dunia.
