Michael Waltz dan Donald Trump. (Haiyun Jiang/The New York Times)
Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) melakukan kesalahan fatal yang mengejutkan dunia. Secara tidak sengaja, ia membocorkan rencana serangan udara terhadap kelompok Houthi di Yaman melalui aplikasi perpesanan terenkripsi Signal. Kesalahan ini menyebabkan seorang jurnalis ternama, Jeffrey Goldberg, tanpa disadari dimasukkan ke dalam grup obrolan yang berisi perencanaan strategis militer AS.
Serangan udara tersebut akhirnya benar-benar terjadi pada Sabtu (15/3/2025). Insiden ini memicu polemik besar di AS, memunculkan pertanyaan tentang keamanan komunikasi pejabat negara, serta berujung pada larangan penggunaan Signal di lingkungan pemerintahan.
Jurnalis Tanpa Sengaja Masuk Grup Rahasia
Kisah ini bermula pada Selasa (11/3/2025), ketika Jeffrey Goldberg, pemimpin redaksi The Atlantic, menerima permintaan koneksi dari seseorang yang mengaku sebagai Michael Waltz, Penasihat Keamanan Nasional AS. Goldberg merasa janggal karena meskipun ia pernah bertemu dengan Waltz, permintaan koneksi tiba-tiba dari seorang pejabat tinggi terasa tidak biasa.
Awalnya, Goldberg mengira ini bisa saja upaya penipuan digital. Namun, setelah mempertimbangkan, ia memutuskan untuk menerima permintaan tersebut. Dua hari kemudian, pada Kamis (13/3/2025), ia tiba-tiba mendapat notifikasi bahwa dirinya dimasukkan ke dalam grup obrolan “Houthi PC Small Group” di Signal.
Yang mengejutkan, grup ini ternyata berisi 18 pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
Dalam grup tersebut, mereka secara terbuka mendiskusikan strategi serangan terhadap Houthi, termasuk langkah-langkah yang akan diambil oleh militer AS. Salah satu diskusi yang terungkap adalah perintah Waltz kepada wakilnya, Alex Wong, untuk membentuk “tim macan”, yakni kelompok khusus yang bertugas mengoordinasikan operasi tersebut.
Puncaknya, beberapa jam sebelum serangan dimulai, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terang-terangan membagikan rincian operasional, termasuk target yang akan diserang, jenis senjata yang digunakan, serta urutan serangan.
Goldberg awalnya mengira ini mungkin hanya lelucon atau upaya menyebarkan informasi palsu. Namun, setelah mengonfirmasi dengan Brian Hughes, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, terungkap bahwa semua percakapan dalam grup tersebut benar adanya.
Kehebohan di Grup: Dari Serangan ke Emoji Perayaan
Setelah serangan benar-benar dilaksanakan, para anggota grup justru saling bertukar emoji perayaan, seperti simbol otot, bendera AS, dan tinju. Hal ini semakin memperlihatkan betapa santainya mereka dalam membahas strategi militer besar di sebuah aplikasi pesan yang rentan.
Ketika berita ini terungkap, pihak Gedung Putih segera bergerak melakukan investigasi. Hughes menyatakan bahwa mereka sedang mencari tahu bagaimana nomor Goldberg bisa sampai masuk ke dalam grup tersebut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump, ketika ditanya dalam konferensi pers, justru mengklaim tidak tahu-menahu tentang insiden ini. “Saya tidak tahu apa pun tentang itu. Anda memberi tahu saya ini untuk pertama kalinya,” ujar Trump.
AS Melarang Signal, Sebut “Rentan”
Setelah insiden bocornya rencana serangan, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengeluarkan peringatan resmi yang melarang penggunaan aplikasi Signal oleh pejabat pemerintahan. Bahkan, mereka menegaskan bahwa bahkan untuk komunikasi yang tidak tergolong rahasia pun, penggunaan Signal tidak diperbolehkan.
Dalam memo yang bocor ke media National Public Radio (NPR), Pentagon menyatakan bahwa aplikasi Signal memiliki celah keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh peretas. Salah satu ancaman terbesar yang diidentifikasi adalah kelompok peretas Rusia, yang diketahui menggunakan fitur “linked device” di Signal untuk menyusup ke percakapan terenkripsi.
Menurut laporan dari Google, peretas Rusia memang aktif menargetkan pengguna Signal, terutama mereka yang memiliki akses ke informasi penting dalam pemerintahan.
Namun, pihak Signal sendiri membantah tuduhan ini. Dalam pernyataan resminya, mereka menjelaskan bahwa memo Pentagon tidak menyoroti kelemahan teknis dari aplikasi mereka, melainkan lebih menekankan risiko serangan phishing, yaitu metode penipuan digital di mana peretas menyamar sebagai orang lain untuk mendapatkan akses ke informasi sensitif.
Trump Marah, Tapi Tetap Bela Pejabatnya
Insiden ini menuai reaksi keras dari Trump. Menurut laporan Yahoo News, Trump dikabarkan marah besar kepada Jeffrey Goldberg, bahkan menggunakan kata-kata tidak pantas untuk menyerang jurnalis tersebut.
Trump juga mengecam laporan The Atlantic, menyatakan bahwa kebocoran ini tidak berpengaruh terhadap keberhasilan serangan yang tetap berlangsung sesuai rencana.
Namun, kemarahannya tidak hanya ditujukan kepada media. Menurut Politico, Trump juga geram terhadap Michael Waltz, karena dianggap bertindak ceroboh dengan membocorkan strategi militer. Ia bahkan kesal karena Waltz masih menyimpan nomor Goldberg di kontaknya, yang kemudian menyebabkan jurnalis tersebut tak sengaja dimasukkan ke grup rahasia.
Meski begitu, Waltz tetap mempertahankan jabatannya sebagai Penasihat Keamanan Nasional. Trump membelanya di hadapan publik, menyebutnya sebagai “orang baik” yang telah belajar dari kesalahan.
Sebaliknya, Trump justru menyalahkan staf Waltz, menuduh bahwa salah satu asistennya yang bertanggung jawab atas kesalahan ini. “Itu bukan Waltz sendiri yang menambahkan Goldberg. Salah satu stafnya yang melakukannya,” kata Trump, seperti dikutip NBC News.
