sumber foto : X/@The_RedsIndo
Bahrain datang ke Jakarta dengan penuh percaya diri, berharap bisa membawa pulang poin dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun, kenyataan berkata lain. Di hadapan 69.599 suporter yang memenuhi stadion, Timnas Indonesia menunjukkan dominasinya. Tim tamu tak hanya gagal mencuri angka, tetapi juga dibuat tak berkutik di lapangan.
Pertandingan yang berlangsung pada Selasa (25/3) malam itu menjadi saksi bagaimana pasukan Garuda berhasil menaklukkan Bahrain dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang yang memastikan kemenangan Indonesia dicetak oleh Jay Idzes, sekaligus mengirim Bahrain pulang dengan tangan hampa.
Salah satu kunci kemenangan Indonesia adalah keberadaan Ole sebagai ujung tombak. Meskipun bukan penyerang murni, ia memiliki insting mencetak gol yang tajam. Buktinya, dua pertandingan berturut-turut melawan Australia dan Bahrain, Ole selalu mencatatkan namanya di papan skor. Keberadaannya menghapus kekhawatiran akan ketumpulan lini depan Garuda. Kini, Timnas Indonesia tak lagi hanya sekadar bermain baik, tetapi juga punya predator di depan gawang lawan.
Tak hanya sektor serangan, lini tengah Indonesia juga semakin stabil dengan hadirnya Joey Pelupessy. Ia bukan tipe pemain yang mencuri perhatian seperti Thom Haye, tetapi perannya begitu krusial. Joey menjalankan tugasnya dengan efisien: memutus serangan lawan, menjaga ritme permainan, dan memastikan lini pertahanan tetap kokoh. Tanpa banyak gembar-gembor, ia menjalankan tugasnya dengan efektif dan elegan.
Di lini belakang, kombinasi Rizky Ridho, Jay Idzes, dan Justin Hubner tampil luar biasa. Mereka seolah memiliki pemahaman satu sama lain yang begitu kuat, saling menutupi dan melengkapi. Ridho, yang kembali dipercaya sebagai starter setelah hanya bermain sebagai pengganti melawan Australia, tampil garang dan penuh determinasi. Ia menghadang setiap ancaman seperti macan lapar yang siap menerkam siapa pun yang mencoba menerobos pertahanan Garuda.
Setelah pertandingan, Patrick Kluivert mengakui bahwa ia mulai memahami karakteristik para pemain Indonesia. Hal ini terlihat dari perubahan strateginya. Saat melawan Australia, ia menggunakan formasi empat bek dengan Kevin Diks, Mees Hilgers, Jay Idzes, dan Calvin Verdonk di lini belakang. Sayangnya, strategi itu tak berjalan baik dan Indonesia harus menelan kekalahan telak 1-5.
Namun, melawan Bahrain, Kluivert melakukan penyesuaian signifikan dengan menerapkan skema tiga bek, mengandalkan trio Ridho, Idzes, dan Hubner. Hasilnya, pertahanan Indonesia tampil solid. Tidak ada kesalahan fatal dalam komunikasi maupun antisipasi, sementara Kevin Diks yang kembali ke posisi aslinya di sisi kanan justru semakin eksplosif dalam membantu serangan.
Keputusan Kluivert untuk menerapkan strategi ini dari awal pertandingan merupakan langkah maju yang patut diapresiasi. Sebelumnya, banyak yang meragukan apakah ia akan menggunakan formasi tiga bek. Namun, hasil di lapangan membuktikan bahwa pendekatan ini efektif. Meski kalah dalam penguasaan bola, Indonesia berhasil meraih kemenangan—sebuah bukti bahwa sepak bola bukan sekadar tentang estetika, tetapi juga efektivitas.
Dalam dunia tinju ada filosofi “hit, don’t be hit”—pukul tanpa dipukul. Hal yang sama berlaku dalam sepak bola: cetak gol dan jangan kebobolan. Kemenangan atas Bahrain menunjukkan bahwa Indonesia kini lebih pragmatis dalam bermain. Bukan sekadar menguasai bola, tetapi juga tahu bagaimana mengelola pertandingan dengan cerdas.
Selain itu, Kluivert juga menunjukkan bahwa ia tidak takut melakukan eksperimen dengan memberikan kesempatan kepada Ricky Kambuaya dan Ramadhan Sananta di babak kedua. Meskipun mereka hanya bermain dalam durasi singkat, keputusan ini menunjukkan bahwa sang pelatih terus mengevaluasi dan mencoba berbagai kemungkinan yang bisa memperkuat tim.
Jika Kluivert terus mengasah strategi dan semakin memahami karakteristik pemainnya, bukan tidak mungkin pada laga melawan China dan Jepang di bulan Juni nanti, Timnas Indonesia akan memberikan kejutan lebih besar. Seperti prinsip Nahdlatul Ulama, “al-muhafadhotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”—mempertahankan yang baik dari masa lalu sambil mengambil yang lebih baik dari hal baru. Inilah yang kini diterapkan Kluivert: menggabungkan elemen lama dengan inovasi yang lebih segar demi membawa Timnas Indonesia ke level yang lebih tinggi.
