Ilustrasi insomnia, gangguan tidur, sulit tidur. Insomnia bisa memicu stres dan depresi.(SHUTTERSTOCK/DimaBerlin)
Buletinmedia.com – Beberapa orang meyakini bahwa insomnia merupakan kondisi keturunan dari orangtua mereka. Padahal, insomnia adalah gangguan tidur yang membuat seseorang kesulitan tidur, terjaga di malam hari, dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti sakit kepala dan kelelahan akibat tidur yang tidak nyenyak. Namun, apakah benar insomnia adalah masalah keturunan?
Certified Sleep & Recovery Coach Vishal Dasani menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang menyebabkan insomnia, yang dikenal dengan istilah 3P:
-
Predispose: Faktor pertama adalah predispose, yang merujuk pada bawaan atau kondisi yang diwariskan, namun bukan berarti insomnia itu sendiri diwariskan. Dalam konteks ini, yang diwariskan adalah sensitivitas terhadap stres dan cara seseorang merespons situasi stres. Orang yang sensitif terhadap stres mungkin lebih rentan untuk mengalami gangguan tidur jika stres tidak dikelola dengan baik. Meskipun demikian, jika orangtua menderita insomnia, bukan berarti anak mereka akan mengalami hal yang sama. Stres memang bisa mengganggu tidur karena pikiran yang terus berputar menyebabkan tubuh dan pikiran tidak rileks, padahal relaksasi sangat penting untuk memicu rasa kantuk dan tidur yang nyenyak.
-
Presipitate: Faktor kedua adalah presipitate, yaitu pemicu insomnia yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Beberapa situasi, seperti masalah pekerjaan, tekanan karena deadline, stres akibat pandemi Covid-19, ujian, skripsi, atau masalah keuangan, dapat membuat tidur terganggu. Ketika pemicu-pemicu ini tidak ditangani dengan baik, gangguan tidur bisa berlanjut hingga berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Dalam kondisi ini, tidur yang terganggu bisa berujung pada insomnia jika dibiarkan terus-menerus.
-
Perpetuate: Faktor ketiga adalah perpetuate, yaitu pemeliharaan dari gangguan tidur yang terjadi dalam jangka panjang. Jika faktor presipitate (pemicu) tidak segera ditangani, maka gangguan tidur yang awalnya hanya disebabkan oleh stres atau masalah tertentu bisa berkembang menjadi insomnia kronis. Dengan kata lain, insomnia bisa terjadi ketika gangguan tidur yang tidak ditangani terus berlanjut dan diperburuk oleh kebiasaan buruk yang terbentuk selama periode tidur yang terganggu.
Meskipun ada faktor keturunan atau kecenderungan genetik terkait sensitivitas terhadap stres, insomnia itu sendiri tidak sepenuhnya merupakan kondisi yang diwariskan. Jika ketiga faktor penyebab insomnia ini dikelola dengan baik, maka gangguan tidur ini dapat dicegah atau diatasi. Oleh karena itu, penting untuk menangani stres, memperbaiki kebiasaan tidur, dan mengatasi masalah yang dapat memicu insomnia agar tidur tetap berkualitas dan tubuh tetap sehat.
