Ilustrasi Penembakan (shutterstock.com)
Buletinmedia.com – Tragedi penembakan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) yang dilakukan oleh petugas Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM) di Perairan Tanjung Rhu, Selangor, Malaysia, ternyata melibatkan enam korban, bukan lima seperti yang sempat diberitakan sebelumnya. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sudirman Haji Uma, mengungkapkan bahwa satu di antara enam korban tersebut meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Serdang.
“Yang akurat adalah enam orang, bukan lima. Kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa informasi yang benar adalah enam korban. Satu korban, warga Riau, meninggal dunia, sedangkan tiga korban lainnya saat ini dirawat di Rumah Sakit Serdang,” kata Haji Uma,Senin (28/1/2025) melansir laman Kompas.com.
Sementara itu, satu korban asal Aceh, Muhammad Hanafiah, sedang dirawat di Rumah Sakit Klang, dan satu korban lainnya, Andry Ramadhana, sedang berada di tempat pengasingan. Meskipun dalam kondisi yang cukup serius, Haji Uma mengungkapkan bahwa kondisi korban yang sedang dirawat mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meski masih dalam pemulihan secara berangsur.
Menurut Haji Uma, informasi mengenai insiden ini diperoleh langsung dari salah satu korban, Andry Ramadhana, yang menjadi saksi kunci dalam peristiwa tragis tersebut. Andry, warga Kabupaten Pidie Jaya, yang juga merupakan salah satu penumpang dalam kapal yang diserang, memberikan gambaran tentang kronologi kejadian.
“Boat yang kami tumpangi berisi 26 orang. Setelah terjadi kejar-kejaran, boat kami ditembak dari jarak sekitar 20 meter dari belakang. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 03.00 WIB pada Jumat, 24 Januari 2025, di perairan pinggiran laut Banting, Selangor,” ungkap Haji Uma.
Haji Uma menjelaskan bahwa setelah ditembak, boat yang dipenuhi WNI tersebut berhasil melarikan diri ke hutan bakau di Banting, Selangor. Kejaran aparat APMM dihentikan setelah kehilangan jejak. “Boat tersebut berhasil meloloskan diri, dan beberapa penumpang mulai berpencar untuk menyelamatkan diri. Andry Ramadhana tidak pergi ke rumah sakit setelah kejadian, melainkan ikut melarikan diri bersama penumpang lainnya,” jelasnya.
Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, Haji Uma mengaku membujuk Andry Ramadhana yang kini berada dalam persembunyian, setelah ketakutan akibat kejadian tersebut. Haji Uma menegaskan bahwa dirinya telah menjamin keselamatan Andry untuk berbicara tentang apa yang terjadi di lapangan.
