The Hunger Games Kembali Viral, Slogan Perlawanan Ini Dikaitkan dengan Karhutla Indonesia. (foto. the hunger games) - Buletin Media
Potongan adegan film The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 kembali ramai berseliweran di media sosial. Salah satu yang paling banyak menarik perhatian adalah adegan Katniss Everdeen berdiri di tengah puing-puing kebakaran sambil menyampaikan kalimat, “If we burn, you burn with us.”
Adegan film yang dirilis pada 2014 tersebut belakangan terasa memiliki makna berbeda ketika dikaitkan dengan situasi di Indonesia. Kalimat itu bahkan muncul dalam aksi demonstrasi pada 28 Oktober 2026, ketika masyarakat menyuarakan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Lantas, apa sebenarnya makna di balik adegan tersebut dan mengapa film lawas ini kembali diperbincangkan?
Mengenal Adegan Ikonik The Hunger Games
The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 merupakan bagian ketiga dari rangkaian film The Hunger Games yang dibintangi Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen.
Film ini mengambil latar negara fiktif bernama Panem, sebuah wilayah yang terbagi menjadi sejumlah distrik dan berada di bawah kekuasaan Capitol. Di tengah ketimpangan dan penindasan, muncul gerakan pemberontakan yang berusaha melawan kekuasaan tersebut.
Dalam salah satu adegan penting, Katniss mengunjungi Distrik 8 dan menyaksikan rumah sakit yang dipenuhi warga sipil menjadi sasaran serangan Capitol. Setelah melihat kehancuran tersebut, ia menyampaikan pesan perlawanan yang ditujukan kepada Presiden Snow.
“Fire is catching. And if we burn, you burn with us!”
Kalimat tersebut bukan sekadar ancaman dalam cerita. Ucapan Katniss menjadi simbol bahwa penderitaan yang dialami masyarakat tidak bisa terus diabaikan. Jika mereka harus menanggung kehancuran akibat tindakan penguasa, pihak yang berada di balik penderitaan itu juga tidak akan luput dari dampaknya.
Sejak saat itu, kalimat tersebut dikenal sebagai salah satu slogan ikonik dalam semesta The Hunger Games.
Dari Layar Film ke Aksi Demonstrasi di Indonesia
Popularitas kembali adegan tersebut tidak berhenti pada nostalgia penonton terhadap film lama. Pada Rabu (28/10/2026), slogan “If We Burn, You Burn With Us” terlihat dalam aksi demonstrasi di sejumlah wilayah Indonesia.
Di Jakarta, para demonstran membawa spanduk dengan kalimat tersebut. Sementara di Malang, poster serupa muncul bersama pesan kritik lain, termasuk tulisan “Bakar Kekuasaan Prabowo-Gibran, Padamkan Api Karhutla”.
Aksi pada 28 Oktober itu melibatkan mahasiswa serta kelompok masyarakat sipil yang menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan.
Gestur tiga jari yang identik dengan simbol perlawanan dalam The Hunger Games juga terlihat dalam aksi tersebut.
Penggunaan simbol dari film ini memperlihatkan bagaimana karya budaya populer dapat menjadi bahasa visual untuk menyampaikan aspirasi. Sebuah adegan fiksi bisa digunakan kembali untuk menggambarkan keresahan yang terjadi di kehidupan nyata.
Ketika Slogan Film Dikaitkan dengan Karhutla
Kaitan antara The Hunger Games dan karhutla bukan muncul tanpa alasan. Kebakaran hutan dan lahan telah menjadi persoalan lingkungan yang berdampak luas, mulai dari kerusakan ekosistem, hilangnya habitat satwa, hingga pencemaran udara yang mengancam kesehatan masyarakat.
Pada 28 Oktober 2026, pemantau deforestasi Nusantara Atlas menyebut kebakaran telah menghancurkan lebih dari 1,9 juta hektare wilayah Indonesia selama sembilan bulan hingga September 2026.
Reuters juga melaporkan bahwa kebakaran dan kabut asap berdampak pada kesehatan masyarakat serta mencemari udara hingga negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.
Dalam konteks tersebut, slogan “If We Burn, You Burn With Us” digunakan sebagai bentuk kritik terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab atas persoalan lingkungan.
Pesan itu seolah mengingatkan bahwa kerusakan alam bukan persoalan yang hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Dampaknya dapat meluas dan dirasakan banyak orang, termasuk generasi mendatang.
Film Lawas, Pesan yang Masih Relevan
Kembalinya potongan The Hunger Games ke linimasa media sosial menunjukkan bahwa sebuah film tidak selalu berhenti relevan setelah bertahun-tahun dirilis.
Cerita tentang ketimpangan, kekuasaan, dan perlawanan yang dibangun dalam film tersebut kembali menemukan ruang pembicaraan ketika dihubungkan dengan persoalan sosial dan lingkungan.
Namun, penting dipahami bahwa The Hunger Games merupakan karya fiksi. Penggunaan slogan dan simbolnya dalam demonstrasi merupakan pilihan para peserta aksi untuk menyampaikan kritik, bukan gambaran langsung tentang kondisi Indonesia dalam cerita film.
Pada akhirnya, api dalam adegan tersebut mungkin hanya bagian dari cerita di layar. Namun, ketika kalimatnya dibawa ke dunia nyata, pesan yang ingin disampaikan menjadi jauh lebih luas: kerusakan lingkungan dan penderitaan masyarakat bukan sesuatu yang bisa terus dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
