Komunitas Pecinta Kebersihan dan Pelestarian Sungai, Hujan Keruh, di Majalengka, Jawa Barat, menggelar Festival Pecunan (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Upaya menjaga kebersihan sungai tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih yang bersifat rutin. Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, kepedulian terhadap lingkungan dikemas melalui kegiatan budaya dan kreativitas masyarakat dalam Festival Pecunan yang digelar Komunitas Pecinta Kebersihan dan Pelestarian Sungai, Hujan Keruh.
Festival Pecunan menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat karena menggabungkan pesan pelestarian lingkungan dengan tradisi dan kreativitas warga. Berbagai kegiatan digelar selama dua hari, mulai dari balap perahu tradisional, penampilan Tari Blentung yang melibatkan sekitar seribu penari, penebaran benih ikan nila Nirwana, hingga parade perahu hias.
Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sungai menjadi bagian utama dalam pelaksanaan festival sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan.
Bagi Komunitas Hujan Keruh, sungai bukan sekadar aliran air yang memiliki fungsi bagi masyarakat. Sungai juga menjadi bagian dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, keberadaan sungai perlu dirawat agar tetap bersih, lestari, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Festival Pecunan menjadi salah satu cara komunitas tersebut menyampaikan pesan itu kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan warga.
Festival Pecunan Digelar Selama Dua Hari
Festival Pecunan tahun ini memiliki konsep yang berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak dilakukan dalam satu rangkaian acara, kali ini festival berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu.
Sejumlah kegiatan disiapkan untuk menghibur masyarakat sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga sungai.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah balap perahu Pecunan tradisional. Lomba tersebut menghadirkan suasana meriah di sekitar aliran sungai. Masyarakat dapat menyaksikan secara langsung para peserta yang berlomba menggunakan perahu tradisional.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi warga. Balap perahu juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan tradisi yang berkembang di masyarakat sekitar sungai.
Ketua Panitia Penyelenggara Festival Pecunan dari Komunitas Hujan Keruh, Syarifudin Rahmat, mengatakan pihaknya memang memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkreasi melalui festival tersebut.
“Kita hanya menyediakan ruang kreatif dan kreasi. Festival kali ini berbeda dengan festival sebelumnya karena dilaksanakan dua hari. Salah satu yang menarik masyarakat yaitu lomba balap perahu tradisional dan kita juga menampilkan seribu penari yang membawakan Tari Blentung, ditutup dengan karnaval rakit hias,” ujar Syarifudin Rahmat.
Menurutnya, kreativitas masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan Festival Pecunan. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang digelar.
Seribu Penari Tampilkan Tari Blentung
Selain balap perahu tradisional, salah satu kegiatan utama dalam Festival Pecunan adalah penampilan Tari Blentung.
Sebanyak seribu penari dari sejumlah sanggar tari dan kalangan pelajar terlibat dalam pertunjukan tersebut. Mereka menampilkan tarian tradisional di kawasan aliran sungai dan sepanjang tanggul.
Penampilan Tari Blentung menjadi salah satu bagian yang mencolok dalam festival karena melibatkan banyak peserta sekaligus.
Para penari tidak hanya tampil di panggung seperti pertunjukan seni pada umumnya. Mereka menari di sekitar kawasan sungai sehingga pertunjukan tersebut menyatu dengan lingkungan tempat Festival Pecunan digelar.
Kehadiran seribu penari juga menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian sungai dapat dikolaborasikan dengan pelestarian seni dan budaya.
Anak-anak sekolah dan anggota sanggar tari mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Pada saat yang sama, masyarakat yang datang menyaksikan festival mendapatkan hiburan sekaligus pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Konsep tersebut menjadi salah satu kekuatan Festival Pecunan. Sungai dijadikan pusat kegiatan, sementara tradisi dan kesenian menjadi media untuk menyampaikan pesan lingkungan.
Sungai Menjadi Ruang Kreativitas Masyarakat
Festival Pecunan juga memperlihatkan bagaimana ruang di sekitar sungai dapat dimanfaatkan untuk kegiatan positif.
Kawasan bantaran sungai selama ini kerap menghadapi berbagai persoalan lingkungan, salah satunya keberadaan sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat mengganggu aliran air dan menurunkan kualitas lingkungan di sekitar sungai.
Melalui festival, masyarakat diajak melihat sungai dari sudut pandang yang berbeda.
Sungai tidak hanya dipandang sebagai tempat mengalirnya air, tetapi juga sebagai bagian dari ruang hidup masyarakat yang harus dijaga bersama.
Kegiatan seperti Festival Pecunan dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran tersebut. Pesan mengenai kebersihan sungai disampaikan melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Warga yang berada di sekitar bantaran sungai ikut berpartisipasi dalam berbagai rangkaian acara.
Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena menjaga sungai tidak dapat dilakukan hanya oleh komunitas lingkungan atau pemerintah. Kebiasaan menjaga kebersihan perlu tumbuh dari masyarakat yang setiap hari berada di sekitar sungai.
Sampah Disulap Menjadi Perahu Hias
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam Festival Pecunan adalah parade perahu hias.
Perahu-perahu tersebut dibuat oleh warga Jatitujuh yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Cipel ang. Yang membuatnya berbeda, sebagian bahan yang digunakan berasal dari sampah yang sebelumnya ditemukan dan dibuang di sungai.
Sampah yang semula dianggap tidak memiliki nilai kemudian dimanfaatkan sebagai bahan kreativitas untuk membuat perahu hias.
Konsep tersebut menjadi pesan tersendiri dalam Festival Pecunan.
Masyarakat diperlihatkan bahwa sampah yang berada di lingkungan sekitar sebenarnya dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai kreatif.
Namun, pemanfaatan sampah dalam pembuatan perahu hias bukan berarti masyarakat dianjurkan membuang sampah ke sungai. Justru sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi pengingat mengenai dampak buruk kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Sampah yang berada di sungai perlu diangkat dan dikelola agar tidak mengganggu ekosistem serta aliran air.
Kreativitas warga dalam mengubah sampah menjadi bagian dari perahu hias menjadi contoh bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat memiliki fungsi lain apabila dikelola dengan baik.
Parade perahu hias kemudian menjadi salah satu acara penutup yang ditunggu masyarakat.
Warga dapat melihat hasil kreativitas masyarakat sekitar yang dihias sedemikian rupa untuk mengikuti karnaval di sepanjang aliran sungai.
Festival Pecunan Digelar untuk Jaga Kelestarian Sungai
Festival Pecunan bukan sekadar acara hiburan.
Komunitas Hujan Keruh menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kampanye menjaga dan melestarikan sungai.
Sungai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Keberadaannya berkaitan dengan berbagai aktivitas warga, baik untuk kebutuhan lingkungan maupun aktivitas sosial dan ekonomi.
Karena itu, pencemaran sungai dapat memberikan dampak yang luas.
Sampah yang menumpuk di aliran sungai dapat menghambat aliran air. Pada kondisi tertentu, sampah juga dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk persoalan lingkungan.
Melalui Festival Pecunan, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi sungai.
Pesan tersebut disampaikan dengan cara yang lebih sederhana dan mudah diterima, yaitu melalui kegiatan budaya, olahraga tradisional, serta kreativitas masyarakat.
Festival menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, komunitas, pelajar, seniman, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan.
Ada Penebaran 3.000 Benih Ikan Nila Nirwana
Rangkaian Festival Pecunan juga diisi dengan kegiatan penebaran benih ikan.
Sebanyak 3.000 benih ikan nila Nirwana ditebar ke perairan sebagai bagian dari kegiatan yang berkaitan dengan kepedulian terhadap ekosistem sungai.
Penebaran benih ikan menjadi salah satu simbol bahwa sungai tidak hanya harus terlihat bersih, tetapi juga perlu dijaga agar kehidupan di dalamnya dapat terus berlangsung.
Ekosistem sungai memiliki berbagai unsur yang saling berkaitan.
Kualitas air, keberadaan ikan, tumbuhan, serta kondisi lingkungan di sekitar sungai menjadi bagian dari satu kesatuan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, kegiatan penebaran benih ikan menjadi pelengkap dari kampanye pelestarian sungai yang dilakukan melalui Festival Pecunan.
Masyarakat tidak hanya diajak untuk tidak membuang sampah, tetapi juga memahami bahwa sungai merupakan habitat bagi berbagai makhluk hidup.
Festival Pecunan Memasuki Penyelenggaraan Keempat
Festival Pecunan yang digelar Komunitas Hujan Keruh tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keempat.
Artinya, kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari agenda komunitas dalam menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga sungai.
Setiap pelaksanaan festival memiliki konsep dan kegiatan yang dapat berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Pada pelaksanaan tahun ini, panitia memberikan ruang yang lebih besar bagi kegiatan budaya dan kreativitas warga.
Balap perahu tradisional, Tari Blentung, penebaran benih ikan, serta parade perahu hias menjadi rangkaian kegiatan yang saling melengkapi.
Syarifudin Rahmat mengatakan pelaksanaan tahun ini memang dibuat berbeda dibandingkan dengan festival sebelumnya.
Menurutnya, salah satu tujuan utama festival adalah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkreasi sekaligus memperkenalkan pesan pelestarian sungai kepada masyarakat luas.
Dengan konsep tersebut, Festival Pecunan tidak hanya menjadi kegiatan komunitas, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat.
Mengangkat Tema Rawat Ruat Aliran Air
Festival Pecunan tahun ini mengangkat tema “Rawat Ruat Aliran Air untuk Menjernihkan Tradisi di Arus Zaman”.
Tema tersebut memiliki pesan yang berkaitan erat dengan tujuan utama kegiatan.
Masyarakat diajak untuk merawat aliran air sekaligus menjaga tradisi yang ada di lingkungan mereka.
Perkembangan zaman membuat kehidupan masyarakat terus berubah. Namun, perubahan tersebut diharapkan tidak membuat tradisi dan kepedulian terhadap lingkungan ikut hilang.
Festival Pecunan mencoba mempertemukan dua hal tersebut.
Tradisi ditampilkan melalui balap perahu dan Tari Blentung. Sementara pesan lingkungan disampaikan melalui kampanye kebersihan sungai, penebaran benih ikan, serta pemanfaatan sampah menjadi perahu hias.
Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati kegiatan budaya sekaligus mendapatkan pesan tentang lingkungan.
Kreativitas Warga Jadi Daya Tarik Festival
Keterlibatan warga menjadi salah satu hal yang membuat Festival Pecunan memiliki karakter tersendiri.
Perahu hias yang digunakan dalam karnaval merupakan hasil kreativitas warga Jatitujuh yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Masyarakat diberikan kesempatan untuk menuangkan ide mereka dalam bentuk karya.
Penggunaan material yang berasal dari sampah juga memperlihatkan adanya upaya untuk mengangkat persoalan lingkungan melalui karya kreatif.
Bagi masyarakat, kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman tersendiri.
Mereka tidak hanya mengikuti festival sebagai penonton, tetapi turut menjadi bagian dari acara.
Keterlibatan seperti ini dinilai penting dalam kegiatan pelestarian lingkungan karena kesadaran masyarakat akan lebih mudah tumbuh ketika mereka ikut terlibat secara langsung.
Nazib Faizal Beri Apresiasi
Festival Pecunan turut mendapat apresiasi dari Kepala Deputi 3 Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur, Nazib Faizal, yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Nazib menilai Festival Pecunan memiliki konsep yang menarik karena menggabungkan kegiatan masyarakat dengan pesan pelestarian lingkungan.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan pada masa mendatang.
“Jadi memang festival ini digelar untuk menjaga, merawat, serta mencegah pencemaran lingkungan dan sampah di sungai. Acaranya bagus sekali, ada juga festival perahu hias. Kita berharap acara ini dapat menjadi agenda rutin tahunan,” ujar Nazib Faizal.
Apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi penyelenggara agar Festival Pecunan dapat terus berkembang.
Menurut Nazib, kegiatan seperti Festival Pecunan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas.
Tidak menutup kemungkinan kegiatan yang awalnya berasal dari komunitas lokal tersebut dapat menjadi bagian dari agenda yang melibatkan lebih banyak daerah.
Berpeluang Menjadi Agenda Nasional
Festival Pecunan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi agenda tingkat nasional.
Jika selama ini kegiatan tersebut masih berpusat di wilayah Jatitujuh, ke depan konsep serupa dapat melibatkan komunitas pecinta sungai dari berbagai daerah.
Indonesia memiliki banyak sungai dengan karakteristik dan tradisi masyarakat yang berbeda-beda.
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam berinteraksi dengan sungai. Ada daerah yang memiliki tradisi perahu, kegiatan budaya di bantaran sungai, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang berkaitan dengan air.
Festival seperti Pecunan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai komunitas tersebut.
Apabila dikembangkan secara lebih luas, kegiatan pelestarian sungai tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga dapat menjadi ruang pertukaran budaya antardaerah.
Komunitas dari berbagai wilayah dapat memperkenalkan tradisi masing-masing sekaligus berbagi pengalaman mengenai cara menjaga sungai.
Membangun Kesadaran dari Lingkungan Sekitar
Menjaga sungai merupakan tanggung jawab bersama.
Pemerintah memiliki peran dalam membuat kebijakan dan menyediakan fasilitas pengelolaan lingkungan. Namun, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai juga memiliki peran penting.
Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai, memilah sampah, menjaga bantaran, serta ikut dalam kegiatan kebersihan dapat memberikan dampak terhadap kondisi sungai.
Festival Pecunan mencoba menyampaikan pesan tersebut melalui kegiatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ketika kegiatan lingkungan dikemas dalam bentuk festival, masyarakat dapat menikmati acara sekaligus mendapatkan informasi mengenai pentingnya menjaga sungai.
Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk membuat isu lingkungan lebih mudah diterima.
Festival Pecunan dan Masa Depan Sungai di Majalengka
Pelaksanaan Festival Pecunan di Jatitujuh menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sungai dapat muncul dari masyarakat.
Komunitas Hujan Keruh menjadi salah satu penggerak kegiatan yang menggabungkan lingkungan, tradisi, dan kreativitas.
Rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari menjadi bukti bahwa kampanye lingkungan dapat dikemas dalam berbagai bentuk.
Balap perahu tradisional menjadi bagian dari olahraga dan tradisi. Tari Blentung menjadi ruang bagi pelestarian seni. Penebaran benih ikan menjadi simbol kepedulian terhadap ekosistem. Sementara parade perahu hias menjadi ruang kreativitas sekaligus pengingat mengenai persoalan sampah.
Seluruh kegiatan tersebut bermuara pada satu pesan, yakni pentingnya menjaga sungai.
Festival Pecunan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan.
Lebih dari itu, pesan yang dibawa dalam festival diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sungai yang bersih tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini, tetapi juga bagi generasi berikutnya.
Karena itu, menjaga sungai membutuhkan konsistensi dan keterlibatan banyak pihak.
Komunitas, masyarakat, pelajar, pemerintah, serta berbagai pihak lainnya dapat mengambil peran masing-masing.
Harapan Festival Pecunan Terus Berlanjut
Memasuki penyelenggaraan keempat, Festival Pecunan memiliki peluang untuk terus berkembang.
Kegiatan yang awalnya digagas sebagai ruang bagi komunitas pecinta sungai dapat menjadi gerakan yang lebih luas apabila mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Harapan tersebut juga sejalan dengan apresiasi Nazib Faizal yang melihat Festival Pecunan berpotensi menjadi agenda yang lebih besar.
Dengan melibatkan komunitas pecinta sungai dari berbagai daerah, Festival Pecunan dapat menjadi wadah untuk memperkuat kampanye pelestarian sungai di Indonesia.
Namun, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari meriahnya acara.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana pesan yang disampaikan selama festival dapat diterapkan setelah kegiatan selesai.
Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak kembali dibuang ke sungai. Masyarakat semakin sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Anak-anak dan pelajar memahami bahwa sungai merupakan bagian dari ekosistem yang harus dilindungi.
Jika kesadaran tersebut terus tumbuh, Festival Pecunan dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah acara tahunan.
Menjaga Sungai, Merawat Tradisi
Festival Pecunan di Jatitujuh, Majalengka, menjadi gambaran bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan tradisi dan kreativitas masyarakat.
Seribu penari yang membawakan Tari Blentung, balap perahu tradisional, penebaran 3.000 benih ikan nila Nirwana, serta parade perahu hias menjadi rangkaian kegiatan yang menarik perhatian masyarakat.
Penggunaan sampah sebagai bahan untuk membuat perahu hias juga menjadi pesan kuat bahwa persoalan lingkungan dapat diangkat melalui kreativitas.
Komunitas Hujan Keruh berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga sungai dari pencemaran.
Sementara itu, pemerintah memberikan apresiasi dan membuka peluang agar Festival Pecunan dapat dikembangkan menjadi agenda yang lebih luas.
Pada akhirnya, menjaga sungai bukan hanya tentang membersihkan sampah yang terlihat.
Menjaga sungai juga berarti mempertahankan ekosistem, merawat lingkungan sekitar, serta memastikan tradisi masyarakat yang berkaitan dengan sungai tetap hidup.
Festival Pecunan mencoba menggabungkan semua unsur tersebut dalam satu kegiatan.
Dari Jatitujuh, Majalengka, pesan mengenai pentingnya menjaga sungai diharapkan dapat terus mengalir lebih jauh.
Sungai yang bersih dan lestari bukan hanya menjadi harapan masyarakat hari ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.
