Bola Pemadam Api dari Kulit Singkong (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kulit singkong selama ini lebih banyak dikenal sebagai limbah yang tersisa setelah bagian umbinya diolah menjadi berbagai jenis makanan. Namun, di tangan Aryanto Misel, warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kulit singkong justru dikembangkan menjadi bahan dasar alat pemadam api.
Inovasi tersebut dikenal dengan nama Annaro Fire Stop, sebuah alat pemadam api yang dibuat dalam bentuk bola. Berbeda dengan alat pemadam kebakaran pada umumnya, inovasi ini memiliki bentuk yang sederhana dan dapat digunakan dengan cara dilemparkan ke sumber api.
Temuan Aryanto Misel kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya pembicaraan mengenai kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Alat pemadam api berbahan dasar ekstrak kulit singkong tersebut disebut mampu membantu memadamkan api dalam waktu singkat.
Bagi Aryanto, pemanfaatan kulit singkong sebagai bahan dasar pemadam api bukanlah ide yang baru. Ia mengaku telah mengembangkan teknologi tersebut sejak awal tahun 2000-an. Selama bertahun-tahun, berbagai pengembangan dilakukan untuk menyempurnakan produk agar dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam menangani kebakaran.
Kulit Singkong yang Diubah Menjadi Alat Pemadam Api
Kulit singkong biasanya menjadi bagian yang tidak digunakan setelah proses pengupasan. Sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai pakan ternak atau mengolahnya menjadi bahan tertentu, sementara sebagian lainnya membuangnya begitu saja.
Aryanto melihat adanya potensi berbeda dari limbah tersebut.
Melalui proses pengolahan tertentu, kulit singkong diekstrak dan kemudian dipadukan dengan beberapa bahan pendukung untuk menghasilkan komposisi yang dapat digunakan sebagai bahan pemadam api.
Hasil akhirnya kemudian dikemas dalam bentuk bola yang dibungkus menggunakan styrofoam. Bentuk tersebut membuat Annaro Fire Stop terlihat berbeda dibandingkan alat pemadam api konvensional yang umumnya berupa tabung.
Cara penggunaannya pun cukup sederhana. Bola tersebut diarahkan dan dilemparkan ke titik api. Ketika terkena panas atau tersulut, bagian tertentu pada alat akan memicu reaksi sehingga wadah pecah dan serbuk pemadam tersebar ke area yang terbakar.
Aryanto menyebut mekanisme tersebut dirancang untuk membantu menghentikan proses pembakaran secara cepat.
Meski demikian, klaim mengenai kemampuan memadamkan api dalam hitungan detik tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi penggunaan, jenis kebakaran, skala api, serta pengujian yang dilakukan. Dalam situasi kebakaran besar, alat pemadam sederhana tentu tidak dapat begitu saja menggantikan sistem pemadaman yang sesuai dengan standar keselamatan.
Annaro Fire Stop Memanfaatkan Ekstrak Kulit Singkong
Menurut Aryanto, salah satu bagian penting dalam inovasinya adalah penggunaan ekstrak kulit singkong. Ia menyebut komposisi Annaro Fire Stop terdiri dari sekitar 90 persen ekstrak kulit singkong.
Bahan tersebut kemudian dipadukan dengan katalis dan bahan antigumpal. Selain itu, terdapat pula sejumlah komponen pendukung yang digunakan untuk membentuk sistem pemicu pada alat tersebut.
Kandungan yang terdapat dalam kulit singkong disebut menjadi salah satu alasan bahan tersebut dikembangkan lebih lanjut. Aryanto menyebut adanya kandungan potasium sitrat dalam kulit singkong yang dimanfaatkan dalam formulasi pemadam api buatannya.
Konsep tersebut menjadi menarik karena bahan yang selama ini identik dengan limbah justru dimanfaatkan untuk menghasilkan produk dengan fungsi berbeda.
Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna juga menjadi salah satu alasan inovasi tersebut mendapat perhatian. Kulit singkong yang biasanya tidak memiliki nilai ekonomi tinggi dapat diolah menjadi bagian dari sebuah produk yang memiliki fungsi khusus.
Namun, proses pengolahan bahan menjadi alat pemadam api tentunya tidak sesederhana mengumpulkan kulit singkong kemudian mencampurnya dengan bahan lain. Diperlukan formulasi, proses produksi, serta pengujian agar produk dapat digunakan dengan aman dan efektif.
Bentuk Bola Menjadi Ciri Khas Inovasi Aryanto
Salah satu hal yang paling mudah dikenali dari Annaro Fire Stop adalah bentuknya.
Jika alat pemadam api pada umumnya berupa tabung yang harus dibawa dan diarahkan secara manual, inovasi Aryanto dibuat dalam bentuk bola. Pengguna cukup melemparkan alat tersebut ke arah sumber api.
Bentuk seperti ini dirancang agar penggunaan dapat dilakukan dari jarak tertentu. Ketika bola berada di area api, sistem pemicu di dalamnya akan bekerja dan menyebabkan bagian pembungkus pecah.
Serbuk pemadam kemudian dilepaskan ke sekitar sumber api.
Aryanto menjelaskan bahwa mekanisme tersebut tidak sekadar mengandalkan cara kerja dengan menutup api dari oksigen. Menurutnya, sistem pada Annaro Fire Stop dirancang untuk memutus mata rantai reaksi pembakaran.
Penjelasan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik dari inovasi yang dikembangkan warga Cirebon tersebut.
Secara sederhana, api dapat terus menyala ketika terdapat unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran. Karena itu, upaya pemadaman dapat dilakukan dengan menghilangkan salah satu unsur yang membuat reaksi pembakaran tetap berlangsung.
Aryanto menyebut teknologi yang dikembangkannya berusaha bekerja pada proses tersebut.
Sumbu Menjadi Bagian dari Mekanisme Pemicu
Di dalam bola pemadam api tersebut terdapat sumbu yang menjadi bagian dari sistem pemicu. Ketika sumbu tersulut, terjadi reaksi yang membuat bola pecah dan mengeluarkan serbuk pemadam.
Dalam penjelasannya, Aryanto menggambarkan adanya reaksi seperti petasan yang berfungsi membantu menyebarkan bahan pemadam.
Karena melibatkan sistem pemicu dan reaksi tertentu, penggunaan alat tersebut tentu harus memperhatikan prosedur keselamatan. Produk yang memiliki mekanisme penyalaan tidak bisa diperlakukan seperti benda biasa.
Pengguna harus mengetahui cara penyimpanan, penempatan, serta penggunaannya agar tidak menimbulkan risiko tambahan.
Terlebih jika alat digunakan dalam kondisi kebakaran. Situasi tersebut biasanya sudah melibatkan suhu tinggi, asap, dan kemungkinan munculnya api yang bergerak cepat.
Karena itu, alat pemadam jenis apa pun sebaiknya digunakan sesuai petunjuk dan tidak dijadikan satu-satunya cara untuk menghadapi kebakaran besar.
Tak Hanya Bola, Aryanto Membuat APAR Berbentuk Tabung
Pengembangan inovasi Aryanto tidak berhenti pada bentuk bola.
Ia juga membuat alat pemadam api ringan atau APAR dalam bentuk tabung. Secara bentuk, produk tersebut lebih mendekati alat pemadam api yang selama ini banyak digunakan di berbagai tempat.
Perbedaannya terletak pada bahan yang digunakan serta sistem di dalam tabung.
Aryanto menyebut APAR buatannya menggunakan nitrogen. Gas tersebut digunakan untuk memberikan tekanan sehingga bahan pemadam dapat terdorong keluar ketika alat digunakan.
Penggunaan nitrogen juga disebut bertujuan membantu mencegah bahan pemadam menggumpal selama berada di dalam tabung.
Pengembangan dalam dua bentuk tersebut menunjukkan bahwa Aryanto berusaha membuat teknologi pemadam api dengan konsep yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan.
Bentuk bola dapat digunakan dengan cara dilemparkan ke arah api, sedangkan bentuk tabung dapat digunakan seperti APAR pada umumnya.
Dikembangkan Sejak Awal Tahun 2000-an
Annaro Fire Stop bukan inovasi yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir.
Aryanto menyebut dirinya sudah mulai mengembangkan teknologi tersebut sejak awal tahun 2000-an. Artinya, proses pengembangan telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.
Selama periode tersebut, ia terus melakukan berbagai pengembangan terhadap bahan dan bentuk produk.
Perjalanan panjang itu pula yang membuat inovasi Aryanto beberapa kali mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak.
Ia dikenal sebagai penemu asal Cirebon yang mengembangkan teknologi pemadam api berbahan dasar kulit singkong. Julukan profesor tanpa gelar juga melekat pada dirinya karena aktivitasnya dalam melakukan pengembangan teknologi secara mandiri.
Bagi Aryanto, proses menciptakan sebuah inovasi tidak selalu harus dimulai dari laboratorium besar atau lembaga penelitian. Ia justru mengembangkan gagasannya dari lingkungan sekitar dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan.
Kulit singkong menjadi salah satu bahan yang kemudian ia teliti dan kembangkan.
Pernah Mendapat Dukungan dari Sejumlah Pihak
Dalam perjalanan pengembangan Annaro Fire Stop, Aryanto menyebut inovasinya mendapat dukungan dari sejumlah pihak.
Salah satu nama yang disebut adalah Letjen TNI Kunto Arief Wibowo. Ia merupakan mantan Pangdam III Siliwangi dan kini menjabat sebagai Pangkogabwilhan I.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Aryanto dalam mengembangkan teknologi pemadam api berbahan dasar kulit singkong.
Bagi seorang penemu yang mengembangkan produk secara mandiri, dukungan dari berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting untuk memperkenalkan hasil inovasi kepada masyarakat.
Terlebih, teknologi pemadam api berkaitan langsung dengan keselamatan sehingga diperlukan proses pengembangan dan pengujian yang matang sebelum dapat digunakan secara luas.
Teknologi Disebut Pernah Dibeli Jepang
Salah satu cerita menarik dari perjalanan inovasi Aryanto adalah klaim mengenai teknologi kulit singkong yang dikembangkannya.
Aryanto menyebut resep dan lisensi teknologi tersebut telah dibeli oleh Jepang pada 2010 lalu.
Menurutnya, meskipun teknologi tersebut telah dibeli, dirinya masih diperbolehkan melakukan produksi dalam skala rumahan.
Hal itu menjadi bagian penting dalam perjalanan Annaro Fire Stop. Dari sebuah inovasi yang dikembangkan di Cirebon, teknologi tersebut disebut telah mendapatkan perhatian hingga ke luar negeri.
Aryanto mengatakan proses tersebut menjadi bukti bahwa bahan sederhana seperti kulit singkong dapat memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai.
Namun, untuk memastikan informasi mengenai lisensi, hak produksi, serta penggunaan teknologi tersebut, diperlukan dokumen atau keterangan resmi dari pihak-pihak yang terlibat.
Aryanto Pernah Memaparkan Temuannya kepada Prabowo Subianto
Selain cerita mengenai pengembangan dan lisensi teknologi, Aryanto juga menyebut dirinya pernah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku sempat memaparkan alat pemadam api hasil temuannya.
Pertemuan dengan tokoh nasional tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi Aryanto. Apalagi, inovasi yang dibawanya berasal dari bahan sederhana yang banyak ditemukan di masyarakat.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana perjalanan seorang penemu dari daerah dapat membawa hasil karyanya ke ruang yang lebih luas.
Bagi Aryanto, pengembangan teknologi tidak hanya bertujuan menghasilkan sebuah produk. Ia juga ingin menunjukkan bahwa sumber daya yang ada di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan melalui inovasi.
Serbuk Sisa Disebut Bisa Dimanfaatkan untuk Tanaman
Ada hal lain yang cukup menarik dari Annaro Fire Stop.
Menurut Aryanto, serbuk berbahan dasar kulit singkong yang tersisa setelah digunakan untuk pemadaman api masih memiliki manfaat lain.
Ia menyebut bahan tersebut dapat membantu kesuburan tanaman karena menggunakan bahan yang disebutnya 100 persen organik.
Konsep ini menjadi salah satu nilai tambah yang ditawarkan dari pemanfaatan kulit singkong.
Namun, klaim mengenai manfaat terhadap kesuburan tanaman tetap perlu dibuktikan melalui pengujian ilmiah untuk mengetahui kandungan, dosis, serta pengaruhnya terhadap berbagai jenis tanaman.
Jika benar dapat dimanfaatkan kembali, sisa bahan tersebut berpotensi memiliki nilai guna tambahan dan tidak langsung menjadi limbah setelah digunakan.
Hal ini juga sejalan dengan gagasan pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan fungsi baru.
Pernah Memproduksi Hingga 1.000 Bola Pemadam Api
Dalam perjalanan produksinya, Aryanto mengaku pernah membuat hingga 1.000 bola pemadam api berdasarkan permintaan pembeli.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan sejak awal tahun 2000-an tidak hanya berhenti pada tahap percobaan.
Ada pihak yang tertarik menggunakan produk tersebut sehingga dilakukan produksi sesuai permintaan.
Meski begitu, produksi alat pemadam api dalam jumlah besar tentu membutuhkan perhatian terhadap kualitas dan keamanan produk.
Setiap unit harus memiliki standar yang konsisten, mulai dari komposisi bahan, bentuk, mekanisme pemicu, hingga kemampuan alat ketika digunakan.
Apalagi, alat tersebut berkaitan dengan penanganan kebakaran yang memiliki risiko tinggi.
Kembali Disorot di Tengah Isu Karhutla
Inovasi Aryanto kembali mendapat perhatian ketika isu kebakaran hutan dan lahan ramai dibicarakan.
Karhutla menjadi salah satu persoalan yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung muncul dan meluasnya kebakaran.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan berbagai pendekatan. Pemadaman biasanya melibatkan petugas, peralatan khusus, kendaraan pemadam, hingga dukungan udara untuk kebakaran yang sulit dijangkau.
Dalam kondisi seperti itu, kehadiran teknologi alternatif menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.
Bola pemadam api berbahan kulit singkong yang dikembangkan Aryanto kemudian kembali muncul sebagai salah satu inovasi yang dinilai menarik perhatian.
Terlebih, bentuknya berbeda dari alat pemadam konvensional dan menggunakan bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Wacana Produksi Secara Massal
Seiring kembali menjadi perhatian, muncul pula wacana agar alat pemadam berbahan dasar singkong tersebut dapat diproduksi secara massal.
Produksi dalam skala besar tentunya akan menjadi tahap berbeda dibandingkan produksi rumahan.
Ada banyak aspek yang harus dipersiapkan, mulai dari ketersediaan bahan baku, proses produksi, kualitas produk, pengujian efektivitas, hingga standar keselamatan.
Jika akan digunakan untuk kebutuhan masyarakat secara luas, alat pemadam api harus memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak cukup hanya mengandalkan klaim bahwa api dapat dipadamkan dalam hitungan detik. Pengujian harus dilakukan pada berbagai kondisi kebakaran untuk mengetahui sejauh mana kemampuan alat tersebut.
Pengujian juga penting untuk memastikan bahwa alat tidak menimbulkan bahaya baru ketika digunakan.
Potensi Kulit Singkong sebagai Bahan Bernilai Ekonomi
Di luar persoalan alat pemadam api, inovasi Aryanto juga memperlihatkan potensi pemanfaatan limbah pertanian.
Singkong merupakan salah satu komoditas yang banyak ditemukan di Indonesia. Umbinya digunakan untuk berbagai kebutuhan pangan, sementara kulitnya sering kali tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Jika limbah tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, tentu ada peluang ekonomi yang dapat dikembangkan.
Pemanfaatan kulit singkong juga dapat menjadi contoh bagaimana inovasi sederhana bisa lahir dari persoalan yang ada di lingkungan sekitar.
Tidak semua inovasi harus menggunakan bahan mahal. Terkadang, bahan yang dianggap tidak berguna justru menyimpan potensi ketika diteliti dan diolah dengan metode yang tepat.
Inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari cerita Aryanto Misel.
Inovasi Lokal yang Menarik Perhatian
Perjalanan Aryanto dalam mengembangkan Annaro Fire Stop menjadi cerita tersendiri dari dunia inovasi lokal.
Berawal dari kulit singkong yang dianggap sebagai limbah, ia mengembangkan bahan tersebut menjadi bagian dari teknologi pemadam api.
Produk berbentuk bola menjadi ciri khas inovasinya. Cara penggunaan yang berbeda dari APAR konvensional membuat alat tersebut mudah dikenali.
Di sisi lain, perjalanan pengembangan selama lebih dari dua dekade memperlihatkan bahwa sebuah inovasi membutuhkan proses panjang.
Aryanto tidak berhenti pada satu bentuk. Ia mengembangkan produk berbentuk bola sekaligus membuat APAR berbentuk tabung dengan tekanan nitrogen.
Kisah tersebut menjadi semakin menarik karena inovasi ini kembali diperbincangkan di tengah isu kebakaran hutan dan lahan.
Tetap Membutuhkan Pengujian dan Standar Keselamatan
Meski memiliki konsep yang menarik, alat pemadam api tetap merupakan produk yang berkaitan dengan keselamatan.
Karena itu, efektivitas dan keamanan harus menjadi perhatian utama.
Kemampuan memadamkan api dalam hitungan detik tidak bisa diterapkan secara sama pada semua jenis kebakaran. Kebakaran kecil di ruang terbatas tentu berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan yang luas.
Faktor angin, jenis bahan yang terbakar, temperatur, luas area, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi proses pemadaman.
Karena itu, alat seperti Annaro Fire Stop lebih tepat dilihat sebagai salah satu inovasi yang sedang dikembangkan dan perlu ditempatkan sesuai fungsi serta hasil pengujiannya.
Penggunaan alat pemadam api juga harus tetap mengikuti prinsip keselamatan. Ketika api sudah membesar dan tidak memungkinkan untuk ditangani secara aman, masyarakat sebaiknya segera menjauh dari lokasi dan menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Harapan untuk Pengembangan Teknologi dari Cirebon
Bagi dunia inovasi daerah, kisah Aryanto Misel menjadi contoh bahwa ide dapat muncul dari bahan yang sederhana.
Kulit singkong yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dikembangkan menjadi bagian dari produk pemadam api yang memiliki bentuk dan cara kerja berbeda.
Perjalanan panjang sejak awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa inovasi membutuhkan ketekunan. Produk harus terus dikembangkan agar dapat menjawab kebutuhan dan memenuhi aspek keamanan.
Jika nantinya benar-benar diarahkan menuju produksi massal, Annaro Fire Stop tentu membutuhkan proses lebih panjang. Pengujian, sertifikasi, standardisasi, kapasitas produksi, serta pengawasan kualitas menjadi bagian penting yang tidak dapat dilepaskan.
Terlepas dari berbagai tahapan tersebut, inovasi Aryanto tetap menarik perhatian karena menawarkan gagasan yang tidak biasa.
Dari Cirebon, kulit singkong yang selama ini identik dengan limbah justru diolah menjadi bahan dasar alat pemadam api.
Di tengah pembicaraan mengenai kebakaran hutan dan lahan, inovasi tersebut kembali menjadi sorotan. Wacana pemanfaatan dan produksi secara massal pun membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi pemadam api berbasis bahan lokal.
Bagi Aryanto, perjalanan itu belum selesai. Teknologi yang dikembangkan selama lebih dari dua dekade masih terus disempurnakan.
Kini, bola pemadam api berbahan kulit singkong tersebut menjadi salah satu inovasi lokal yang kembali diperbincangkan. Bukan hanya karena bentuknya yang unik, tetapi juga karena gagasan di baliknya: mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai tambah.
Jika pengembangan dan pengujiannya dapat dilakukan secara konsisten serta memenuhi standar keselamatan yang berlaku, inovasi semacam ini berpotensi menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan bahan lokal untuk teknologi penanganan kebakaran.
Kisah Aryanto Misel pun menjadi pengingat bahwa inovasi dapat berawal dari hal sederhana. Kulit singkong yang biasanya berakhir sebagai limbah ternyata dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah gagasan yang menarik perhatian hingga bertahun-tahun kemudian.
