Berikut adalah platform media sosial terpopuler di tahun 2025 berdasarkan pengguna aktif bulanan. (Gambar ilustrasi)
Buletinmedia.com – Perubahan cara masyarakat Indonesia dalam memperoleh informasi terus mengalami perkembangan seiring pesatnya pertumbuhan teknologi digital. Jika sebelumnya televisi, radio, dan situs berita menjadi sumber utama masyarakat untuk mendapatkan informasi terbaru, kini media sosial mulai mengambil peran besar sebagai tempat mencari dan mengikuti perkembangan berita.
Masyarakat Indonesia saat ini semakin mengandalkan berbagai platform digital, terutama media sosial dan layanan berbasis video, untuk mengetahui peristiwa terkini. Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola konsumsi berita, di mana kecepatan, kemudahan akses, serta interaksi menjadi faktor penting yang membuat media sosial semakin diminati.
Berdasarkan laporan tahunan Digital News Report 2026 yang dirilis Reuters Institute, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat konsumsi berita melalui media sosial tertinggi di dunia. Laporan tersebut mengungkap bahwa penggunaan media sosial sebagai sumber berita terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Survei dalam laporan tersebut dilakukan pada pertengahan Januari hingga akhir Februari 2026 dengan melibatkan lebih dari 85.000 responden dari 48 negara, termasuk Indonesia. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan kebiasaan masyarakat global dalam mengakses berita, termasuk bagaimana platform digital mulai menggantikan sebagian peran media konvensional.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa penggunaan media sosial dan platform video sebagai sumber berita utama di Indonesia meningkat sebesar delapan poin persentase menjadi 48 persen pada tahun 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah masyarakat Indonesia yang mengikuti perkembangan berita kini memanfaatkan platform digital sebagai salah satu sumber informasi utama
Media Sosial Mulai Geser Televisi dan Situs Berita
Perubahan pola konsumsi berita tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Reuters Institute mencatat bahwa secara internasional, media sosial dan platform video telah melampaui televisi maupun situs berita sebagai sumber informasi masyarakat.
Sebanyak 54 persen responden secara global mengaku memperoleh berita melalui media sosial dan platform video dalam satu pekan terakhir. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan televisi yang berada di angka 52 persen serta situs dan aplikasi berita sebesar 51 persen.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih memilih cara yang praktis dalam mendapatkan informasi. Melalui media sosial, pengguna tidak hanya membaca berita, tetapi juga dapat melihat video, mengikuti pembaruan secara langsung, serta berdiskusi dengan pengguna lainnya.
Reuters mencatat bahwa tren penggunaan media sosial sebagai sumber berita terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Semakin banyak masyarakat yang menjadikan platform digital sebagai pintu pertama untuk mengetahui berbagai peristiwa terbaru.
Sekitar 30 persen responden dunia kini menyebut media sosial dan platform video sebagai sumber berita utama mereka. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2021 yang hanya berada di angka 22 persen.
Selain itu, jumlah masyarakat yang hanya mengandalkan media sosial untuk mengonsumsi berita juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2020, hanya sekitar enam persen masyarakat yang sepenuhnya mendapatkan berita melalui media sosial. Namun, angka tersebut meningkat menjadi 12 persen pada 2026.
Menurut Reuters Institute, sebagian pengguna memang secara sadar memilih media sosial sebagai sumber berita utama karena dianggap lebih cepat dan mudah diakses. Namun, sebagian lainnya mulai beralih karena semakin jarang membuka televisi maupun mengunjungi situs berita secara langsung.
WhatsApp Jadi Platform Berita Paling Populer di Indonesia
Di antara berbagai platform digital yang digunakan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan informasi, WhatsApp menjadi salah satu yang paling dominan.
Laporan Reuters Institute menunjukkan bahwa penggunaan WhatsApp sebagai sumber berita di Indonesia meningkat sebesar 13 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2026, sebanyak 56 persen masyarakat Indonesia mengaku memperoleh berita melalui aplikasi pesan instan tersebut.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa WhatsApp tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komunikasi pribadi. Platform yang identik dengan percakapan antarindividu tersebut kini berkembang menjadi salah satu saluran utama penyebaran informasi.
Masyarakat banyak mendapatkan berita melalui grup percakapan, kanal WhatsApp, maupun tautan berita yang dibagikan oleh keluarga, teman, komunitas, hingga berbagai organisasi.
Kemudahan berbagi informasi menjadi salah satu alasan WhatsApp semakin kuat sebagai sumber berita. Pengguna dapat menerima berbagai informasi secara cepat tanpa harus secara khusus membuka aplikasi berita tertentu.
Profesor Media and Public Affairs sekaligus International Affairs di George Washington University, Janet Steele, menyebut bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dari kebiasaan masyarakat Indonesia dalam memperoleh informasi.
“Platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok sangat populer di Indonesia. Sebanyak 64 persen masyarakat Indonesia melaporkan memperoleh berita dari platform-platform tersebut,” tulis Janet Steele dalam laporan Reuters.
Menurutnya, karakter masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan berbagai platform digital turut mendorong perubahan besar dalam cara berita dikonsumsi.
TikTok Jadi Salah Satu Platform Berita dengan Pengguna Tertinggi
Selain WhatsApp, TikTok juga menunjukkan perkembangan pesat sebagai sumber informasi bagi masyarakat Indonesia.
Platform berbasis video pendek tersebut kini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mencari berita, informasi edukasi, hingga berbagai perkembangan terbaru.
Dalam laporan Reuters Institute, sebanyak 43 persen responden Indonesia mengaku menggunakan TikTok untuk memperoleh berita dalam satu pekan terakhir.
Angka tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan penggunaan TikTok sebagai sumber berita tertinggi di dunia. Posisi Indonesia sejajar dengan Malaysia dan Peru yang juga memiliki tingkat penggunaan TikTok untuk berita cukup tinggi.
Fenomena tersebut berbeda dengan beberapa negara Barat yang tingkat penggunaan TikTok sebagai sumber berita masih relatif rendah. Reuters mencatat penggunaan TikTok untuk berita hanya sekitar 10 persen di Amerika Serikat dan tujuh persen di Inggris.
Tingginya penggunaan TikTok sebagai sumber berita di Indonesia tidak terlepas dari perubahan kebiasaan generasi muda. Banyak pengguna kini lebih tertarik mendapatkan informasi melalui konten video singkat yang mudah dipahami dan cepat dikonsumsi.
Selain TikTok, Instagram juga mengalami peningkatan sebagai salah satu saluran distribusi berita. Sementara itu, penggunaan platform X atau yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter sebagai sumber berita terus mengalami penurunan.
Reuters menilai perubahan kepemilikan platform X setelah diakuisisi Elon Musk menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pengguna mulai mencari alternatif lain, termasuk layanan seperti Threads.
Penggunaan Chatbot AI untuk Mencari Berita Mulai Meningkat
Selain media sosial, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga mulai memengaruhi cara masyarakat mencari informasi.
Reuters Institute menemukan adanya peningkatan penggunaan chatbot AI sebagai sumber berita. Secara global, sekitar 10 persen responden mengaku menggunakan chatbot seperti ChatGPT, Perplexity, dan Google Gemini untuk memperoleh informasi berita dalam satu pekan terakhir.
Angka tersebut meningkat tiga poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Korea Selatan menjadi negara dengan penggunaan chatbot AI untuk berita tertinggi, yakni mencapai 14 persen. Setelah itu, Brasil berada di angka 13 persen.
Sementara Indonesia berada di posisi berikutnya dengan tingkat penggunaan 12 persen, sejajar dengan Yunani.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara lain seperti Malaysia sebesar 11 persen, Jepang sembilan persen, Amerika Serikat enam persen, dan Inggris empat persen.
Reuters juga menemukan bahwa kelompok usia muda menjadi pengguna chatbot AI yang paling aktif dalam mencari informasi.
Sebanyak 16 persen responden berusia di bawah 35 tahun mengaku menggunakan chatbot AI untuk mendapatkan berita. Sementara pada kelompok usia di atas 35 tahun, angka penggunaannya berada di sekitar tujuh persen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda semakin terbiasa memanfaatkan teknologi digital dalam memenuhi kebutuhan informasi sehari-hari.
Tantangan Baru di Tengah Perubahan Konsumsi Berita Digital
Meskipun penggunaan media sosial dan teknologi AI memberikan kemudahan dalam mendapatkan informasi, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
Reuters mengingatkan bahwa algoritma media sosial tidak selalu memprioritaskan informasi yang paling akurat. Sebaliknya, sistem algoritma sering kali lebih mengutamakan konten yang mampu menghasilkan interaksi tinggi, seperti jumlah komentar, bagikan, atau tayangan.
Kondisi tersebut membuat informasi yang menarik perhatian publik lebih mudah tersebar, meskipun belum tentu memiliki tingkat akurasi yang baik.
Selain itu, sebagian kreator konten juga lebih berfokus mengejar jumlah pengikut, popularitas, atau kerja sama komersial dibandingkan menerapkan standar jurnalistik.
Situasi tersebut berpotensi mempercepat penyebaran informasi palsu atau misinformasi di ruang digital.
Hal serupa juga berlaku pada penggunaan chatbot AI. Meskipun teknologi tersebut semakin banyak digunakan untuk mencari berita, pengguna tetap perlu melakukan pengecekan ulang terhadap informasi yang diperoleh.
Chatbot AI masih memiliki kemungkinan memberikan jawaban yang tidak tepat atau menghasilkan informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat Perlu Lebih Kritis Mengonsumsi Informasi Digital
Perubahan cara masyarakat Indonesia mencari berita melalui WhatsApp, TikTok, dan berbagai platform digital menunjukkan bahwa dunia informasi sedang mengalami transformasi besar.
Media sosial memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan berita secara cepat dan praktis. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum terbukti kebenarannya.
Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, masyarakat dituntut untuk memiliki literasi informasi yang lebih baik. Kebiasaan memeriksa sumber berita, membandingkan informasi dari berbagai pihak, serta memastikan kebenaran sebelum membagikan informasi menjadi hal penting di era digital.
Ke depan, media sosial dan teknologi AI diperkirakan akan terus memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat mendapatkan berita. Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri media untuk menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan tetap terpercaya.
Sumber : www.kompas.com
