MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Musim haji 2026 membawa berkah tersendiri bagi para pelaku usaha kecil di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Salah satu yang merasakan dampak positif adalah penjual sabuk atau tali pinggang ihram yang kebanjiran pesanan menjelang keberangkatan jemaah ke Tanah Suci. Produk sederhana ini menjadi kebutuhan penting bagi jemaah haji pria karena berfungsi menjaga kain ihram tetap rapi, aman, dan nyaman saat digunakan beribadah.
Sabuk ihram merupakan perlengkapan yang hampir selalu dibawa calon jemaah haji pria. Saat mengenakan kain ihram, jemaah membutuhkan pengikat yang kuat agar kain tidak mudah lepas ketika berjalan, melakukan tawaf, sa’i, maupun aktivitas lainnya selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Karena itulah, permintaan sabuk ihram selalu meningkat setiap musim haji tiba.
Di Kabupaten Majalengka, peningkatan permintaan tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha reparasi tas sekaligus pembuat sabuk ihram bernama Rika Mulyani. Usaha yang dijalankannya mendadak ramai didatangi pembeli dalam beberapa pekan terakhir. Banyak calon jemaah haji datang untuk memesan sabuk ihram, sekaligus memperbaiki tas koper yang akan dibawa ke Arab Saudi.
Menurut Rika, musim haji selalu menjadi momen yang ditunggu setiap tahun karena mampu meningkatkan pendapatan usaha secara signifikan. Dalam waktu singkat, omzet yang diperoleh bisa mencapai jutaan rupiah. Hal itu didorong tingginya kebutuhan perlengkapan haji dari masyarakat yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Ia menjelaskan, calon jemaah haji umumnya mulai membeli perlengkapan sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Selain pakaian, sandal, koper, dan kebutuhan pribadi lainnya, sabuk ihram menjadi salah satu barang wajib yang banyak dicari.
“Dengan adanya musim haji tiap tahun menjadi berkah tersendiri bagi saya. Keuntungan juga lumayan tinggi. Banyak yang memesan ikat pinggang ihram dan memperbaiki tas,” ujar Rika Mulyani.
Usaha milik Rika berlokasi di wilayah Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Selain menerima reparasi tas, ia juga memproduksi sabuk ihram dengan berbagai ukuran sesuai kebutuhan pembeli. Produk buatannya diminati karena dianggap kuat, praktis digunakan, dan harganya terjangkau.
Tidak sedikit calon jemaah yang datang berdasarkan rekomendasi kerabat atau tetangga. Mereka menilai sabuk ihram buatan pelaku usaha lokal memiliki kualitas baik dan lebih hemat dibanding membeli produk serupa di tempat lain.
Musim haji memang menjadi momentum ekonomi yang menguntungkan bagi banyak sektor usaha kecil. Selain penjual sabuk ihram, pedagang koper, sandal, pakaian muslim, perlengkapan ibadah, hingga jasa penukaran uang juga ikut merasakan peningkatan transaksi.
Di Majalengka sendiri, suasana musim haji mulai terasa sejak jadwal keberangkatan jemaah diumumkan. Aktivitas calon jemaah yang mempersiapkan kebutuhan ibadah berdampak pada meningkatnya perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Rika menuturkan, selain menerima pesanan sabuk ihram, ia juga kebanjiran permintaan perbaikan tas koper. Banyak calon jemaah memilih memperbaiki koper lama agar kembali layak pakai dibanding membeli baru. Hal ini dinilai lebih hemat, terutama bagi jemaah yang ingin menekan biaya pengeluaran sebelum berangkat.
Perbaikan tas yang paling sering dilakukan antara lain mengganti roda koper, memperbaiki resleting rusak, memasang pegangan baru, hingga memperkuat jahitan bagian sisi koper. Seluruh layanan itu biasanya meningkat tajam menjelang masa pemberangkatan haji.
Meski pesanan meningkat, Rika mengaku belum menjalin kerja sama dengan seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang ada di Majalengka. Saat ini, pembeli masih datang secara mandiri atau berdasarkan informasi dari pelanggan lama. Jika ke depan kerja sama dapat diperluas, ia optimistis usaha kecilnya akan berkembang lebih besar.
Potensi ekonomi dari musim haji memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Setiap tahun, ribuan jemaah dari berbagai daerah membutuhkan banyak perlengkapan sebelum berangkat. Kondisi ini membuka peluang usaha bagi masyarakat yang jeli melihat kebutuhan pasar.
Sabuk ihram misalnya, meski terlihat sederhana, memiliki fungsi penting selama ibadah haji. Produk ini membantu jemaah bergerak lebih nyaman saat menjalankan aktivitas fisik yang cukup padat. Karena digunakan dalam waktu lama, pembeli biasanya memilih bahan yang kuat dan tidak mudah rusak.
Di sisi lain, keberadaan pelaku usaha lokal seperti Rika juga membantu masyarakat mendapatkan perlengkapan haji dengan harga bersaing. Selain itu, uang yang dibelanjakan masyarakat berputar kembali di daerah sehingga ikut menggerakkan ekonomi lokal.
Warga sekitar mengaku senang dengan adanya usaha pembuatan sabuk ihram di wilayah mereka. Selain memudahkan akses pembelian, keberadaan usaha tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, terutama saat pesanan sedang ramai.
Fenomena meningkatnya penjualan perlengkapan haji menjelang keberangkatan jemaah juga terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Namun di Majalengka, penjual sabuk ihram menjadi salah satu usaha yang paling menonjol karena tingginya permintaan dalam waktu singkat.
Bagi Rika, keberhasilan usahanya bukan hanya soal keuntungan materi. Ia merasa senang karena dapat membantu para calon jemaah mempersiapkan ibadah ke Tanah Suci dengan lebih nyaman. Ada kebanggaan tersendiri ketika produk buatannya ikut dibawa hingga ke Makkah dan Madinah.
Ia berharap musim haji tahun-tahun berikutnya tetap membawa berkah serupa. Selain itu, dirinya ingin meningkatkan kualitas produk agar semakin banyak masyarakat mempercayakan kebutuhan perlengkapan haji kepadanya.
Pemerintah daerah juga diharapkan terus mendorong pelaku UMKM musiman seperti ini agar dapat berkembang. Dukungan berupa pelatihan, promosi, hingga akses pemasaran akan sangat membantu usaha kecil bertahan dan tumbuh.
Musim haji tidak hanya menjadi momen spiritual bagi para jemaah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Dari usaha kecil seperti penjual sabuk ihram, terlihat bagaimana momentum keagamaan mampu menghadirkan peluang rezeki bagi banyak orang.
Dengan meningkatnya jumlah keberangkatan jemaah setiap tahun, permintaan perlengkapan haji diperkirakan akan terus stabil. Artinya, peluang usaha seperti sabuk ihram dan reparasi koper masih sangat terbuka lebar.
Kisah Rika Mulyani di Majalengka menjadi bukti bahwa usaha sederhana pun bisa berkembang ketika ditekuni dengan serius dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Di tengah musim haji 2026, penjual sabuk ihram ini sukses meraup omzet jutaan rupiah sekaligus membantu calon jemaah mempersiapkan perjalanan suci mereka.
