Pedagang Boboko Keliling Asal Majalengka Berangkat Haji (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Kesabaran, kerja keras, hidup sederhana, dan disiplin menabung mengantarkan Eye Sunarya (54), pedagang boboko keliling asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mewujudkan impian besar menunaikan ibadah haji pada musim haji 2026. Pria yang akrab disapa Wa Mumu itu menjadi inspirasi warga sekitar karena berhasil berangkat ke Tanah Suci dari hasil berdagang keliling selama puluhan tahun.
Wa Mumu merupakan warga Blok Minggu, Dusun Cisampih, Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka. Bersama sang istri, Siti Mariah (48), ia akan berangkat sebagai calon jemaah haji kloter 06 asal Majalengka. Keduanya dijadwalkan berangkat pada Minggu, 26 April 2026 melalui Bandara Internasional Kertajati.
Kabar keberangkatan pasangan suami istri ini menjadi perhatian masyarakat sekitar. Banyak warga merasa bangga dan terharu melihat perjuangan panjang Wa Mumu yang selama ini dikenal sebagai pedagang sederhana dengan semangat hidup luar biasa.
Pedagang Boboko Keliling Sejak Muda
Perjalanan hidup Wa Mumu penuh cerita perjuangan. Sejak lulus Sekolah Dasar pada tahun 1981, ia sudah mulai bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Pilihan hidupnya jatuh pada usaha berdagang boboko dan berbagai kerajinan berbahan bambu.
Boboko merupakan tempat nasi tradisional berbahan anyaman bambu yang masih banyak digunakan masyarakat pedesaan. Selain boboko, Wa Mumu juga menjual tampah, nyiru, bakul, dan beragam perlengkapan rumah tangga tradisional lainnya.
Setiap hari, ia membawa dagangan dengan cara dipikul di bahu. Metode tradisional itu tetap ia pertahankan hingga sekarang. Saat pedagang lain mulai menggunakan sepeda motor atau mobil bak terbuka, Wa Mumu masih setia berjualan dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung.
Rute jualannya mencakup wilayah Palasah hingga Leuwimunding. Ia menyusuri jalan desa, mengetuk rumah warga, menawarkan dagangan dengan sabar sambil membawa beban di pundak.
“Setiap hari saya berkeliling membawa boboko dan anyaman dari bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung,” ujar Wa Mumu saat ditemui di rumahnya.
Kesederhanaan cara berdagang itu justru membuat sosok Wa Mumu dikenal luas masyarakat. Banyak warga sudah hafal suara langkahnya dan mengenal dirinya sebagai penjual yang jujur serta ramah.
Merantau Demi Mencari Nafkah
Setelah sekitar lima tahun berdagang di kampung halaman, Wa Mumu memutuskan merantau ke wilayah Purwakarta. Keputusan tersebut diambil demi memperluas usaha dan mencari penghasilan lebih baik.
Di tempat perantauan, ia tetap menjalani profesi yang sama. Bersama sang istri, Wa Mumu terus berjualan peralatan rumah tangga berbahan bambu dari satu tempat ke tempat lain.
Meski hidup jauh dari kampung halaman, ia tidak pernah meninggalkan prinsip kerja keras dan hemat. Hasil usaha yang diperoleh selalu dikelola dengan hati-hati demi kebutuhan keluarga dan masa depan.
Impian Naik Haji yang Disimpan Lama
Di balik kesibukan berdagang, Wa Mumu menyimpan impian besar sejak lama, yakni ingin menunaikan ibadah haji bersama istrinya. Keinginan itu tumbuh dari keyakinan bahwa setiap umat Islam memiliki cita-cita berkunjung ke Tanah Suci.
Namun kondisi ekonomi saat itu sangat terbatas. Penghasilan harian dari berdagang hanya sekitar Rp30.000 per hari. Jumlah tersebut tentu harus dibagi untuk kebutuhan makan, rumah tangga, dan biaya hidup lainnya.
Meski demikian, Wa Mumu tidak menyerah pada keadaan. Pada tahun 2013, ia memberanikan diri mendaftarkan diri bersama istrinya sebagai calon jemaah haji.
Langkah itu dianggap berani oleh banyak orang, mengingat pendapatannya terbilang kecil. Namun bagi Wa Mumu, niat baik harus dimulai lebih dahulu, sementara rezeki akan mengikuti usaha.
Disiplin Menabung Rp10.000 per Hari
Sejak mendaftar haji, Wa Mumu semakin disiplin mengatur keuangan. Dari penghasilan Rp30.000 per hari, ia menyisihkan Rp10.000 khusus untuk tabungan haji.
Jumlah itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun konsistensi menabung setiap hari selama bertahun-tahun menjadi kunci keberhasilannya.
Ia memegang teguh nasihat orang tua agar selalu hidup sederhana. Setengah dari pendapatan digunakan untuk kebutuhan keluarga, sisanya ditabung dan disimpan untuk masa depan.
Wa Mumu juga menghindari pengeluaran yang tidak perlu. Baginya, keinginan sesaat harus dikalahkan demi tujuan besar yang ingin dicapai.
Disiplin semacam inilah yang akhirnya membawa hasil nyata. Setelah menunggu bertahun-tahun, nama Wa Mumu dan istrinya masuk daftar keberangkatan haji tahun 2026.
Warga Bangga dan Terharu
Keberhasilan Wa Mumu berangkat haji menjadi kebanggaan warga Desa Tarikolot. Banyak tetangga menilai sosoknya memang pantas mendapatkan kesempatan tersebut karena dikenal sabar, tekun, dan rendah hati.
Salah seorang tetangga, H. Rega (57), mengaku tidak heran melihat Wa Mumu akhirnya berangkat ke Tanah Suci.
“Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud,” ujarnya.
Warga lainnya, Wiwi (50), menyebut Wa Mumu sebagai sosok pekerja keras yang layak dijadikan teladan.
“Setiap hari keliling, tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja keras dan konsistensi itu penting,” katanya.
Sementara kerabatnya, Pepeh (38), menilai keberhasilan tersebut lahir dari kebiasaan disiplin mengelola uang.
“Penghasilannya memang tidak besar, tapi beliau konsisten menabung. Itu yang membuat kami kagum,” ungkapnya.
Inspirasi dari Kehidupan Sederhana
Kisah Wa Mumu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari penghasilan besar. Dengan pendapatan terbatas pun, seseorang tetap bisa meraih impian selama memiliki niat kuat dan kedisiplinan.
Banyak orang menunda menabung karena merasa pendapatan belum cukup. Namun Wa Mumu justru membuktikan bahwa menabung sedikit demi sedikit secara rutin jauh lebih penting daripada menunggu penghasilan besar yang belum tentu datang.
Selain itu, gaya hidup sederhana menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain. Semua dijalani sesuai kemampuan.
Nilai inilah yang kini mulai jarang ditemui di tengah masyarakat modern yang cenderung konsumtif. Karena itu, kisah Wa Mumu terasa begitu menyentuh dan relevan.
Berangkat dari Bandara Kertajati
Wa Mumu dan istrinya dijadwalkan berangkat melalui Bandara Internasional Kertajati bersama jemaah kloter 06 asal Majalengka. Keduanya telah menyiapkan berbagai keperluan ibadah, mulai dari dokumen, pakaian ihram, hingga perlengkapan pribadi.
Sebelum keberangkatan, warga sekitar ramai berdatangan untuk memberikan doa dan ucapan selamat. Banyak yang berharap pasangan tersebut diberi kesehatan, kelancaran, serta menjadi haji yang mabrur.
Bagi Wa Mumu, keberangkatan ini bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi puncak dari perjuangan panjang yang dimulai dari langkah kecil menabung harian.
Pesan Moral dari Kisah Wa Mumu
Ada banyak pelajaran berharga dari kisah pedagang boboko keliling asal Majalengka ini. Pertama, jangan meremehkan pekerjaan apa pun selama dilakukan dengan jujur. Kedua, impian besar dapat dicapai melalui langkah kecil yang konsisten. Ketiga, hidup sederhana mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Wa Mumu membuktikan bahwa profesi sederhana bukan penghalang untuk mencapai cita-cita mulia. Dengan memikul dagangan dari kampung ke kampung, ia justru berhasil memikul harapan keluarganya menuju Tanah Suci.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati lahir dari ketekunan, kesabaran, dan keyakinan. Dari seorang pedagang keliling di pelosok Majalengka, lahir inspirasi besar bagi banyak orang Indonesia.
