Daftar kota paling ramah bagi pejalan kaki di Asia (Sumber Foto: Unsplash.com/Grzegorz Kaliciak)
Buletinmedia.com – Daftar kota paling ramah pejalan kaki di dunia tahun 2026 kembali menarik perhatian publik global. Kemudahan berjalan kaki kini menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas sebuah kota. Tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, hingga pengalaman ruang publik yang ditawarkan kepada warganya.
Di tengah tren urbanisasi yang semakin padat, kemampuan sebuah kota untuk memberikan ruang aman dan nyaman bagi pejalan kaki menjadi nilai tambah yang signifikan. Kota yang ramah pejalan kaki umumnya memiliki trotoar luas, jalur pedestrian yang terhubung dengan transportasi publik, serta kawasan publik yang hidup dan mudah dijangkau tanpa kendaraan.
Dalam survei tahunan yang dilakukan oleh Time Out, ribuan responden dari berbagai kota di dunia diminta menilai seberapa mudah mereka beraktivitas dengan berjalan kaki. Hasilnya memberikan gambaran menarik tentang kota-kota yang berhasil menciptakan lingkungan urban yang manusiawi dan berorientasi pada mobilitas ramah lingkungan.
Salah satu temuan utama dari survei tersebut adalah bahwa kota besar tidak selalu identik dengan kemacetan dan ketergantungan pada kendaraan bermotor. Sebaliknya, beberapa kota metropolitan justru mampu menghadirkan sistem pedestrian yang terintegrasi dengan baik, sehingga berjalan kaki menjadi pilihan utama bagi warganya.
Dalam daftar terbaru tahun 2026, posisi teratas ditempati oleh Seoul, ibu kota Korea Selatan. Kota ini berhasil meraih tingkat kepuasan hingga 93 persen dari responden lokal terkait kenyamanan berjalan kaki. Capaian ini menunjukkan bahwa kota besar pun dapat menjadi sangat ramah bagi pejalan kaki jika didukung perencanaan yang matang.
Keunggulan Seoul tidak lepas dari berbagai inovasi ruang publik yang mendukung aktivitas pedestrian. Salah satu yang paling terkenal adalah Cheonggyecheon, sebuah jalur air sepanjang sekitar 10 kilometer yang membelah pusat kota. Area ini dikelilingi trotoar yang bersih, rapi, dan terhubung dengan berbagai fasilitas umum, termasuk stasiun transportasi massal dan destinasi wisata.
Selain itu, Seoul juga memiliki Seoullo 7017, taman layang yang dibangun di atas bekas jalan tol. Jalur ini memberikan pengalaman berjalan kaki yang unik karena bebas dari lalu lintas kendaraan, sekaligus menawarkan pemandangan kota dari ketinggian. Kehadiran ruang seperti ini menjadi bukti bagaimana kota dapat mengubah infrastruktur lama menjadi ruang publik yang lebih inklusif.
Di posisi kedua terdapat Edinburgh, yang hanya terpaut sangat tipis dari Seoul. Kota ini dikenal dengan karakter historisnya, termasuk jalanan berbatu dan kontur berbukit. Meski demikian, tingkat kepuasan pejalan kaki tetap tinggi karena banyak destinasi utama berada dalam jarak yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki.
Kawasan seperti Old Town, Kastil Edinburgh, hingga galeri seni utama dapat diakses tanpa kendaraan. Hal ini menciptakan pengalaman berjalan yang tidak hanya praktis, tetapi juga kaya akan nilai budaya dan sejarah.
Di luar dua kota teratas, sejumlah kota besar lainnya juga masuk dalam daftar kota paling ramah pejalan kaki. New York City menempati posisi ketiga dengan jaringan trotoar luas dan sistem transportasi yang mendukung mobilitas tanpa kendaraan pribadi. Kemudian ada Copenhagen dan Oslo yang dikenal dengan kebijakan ramah lingkungan dan pembatasan kendaraan di pusat kota.
Kota-kota di kawasan Skandinavia memang mendominasi daftar ini karena konsistensi mereka dalam membangun lingkungan urban yang berorientasi pada pejalan kaki. Stockholm dan Helsinki juga masuk dalam sepuluh besar berkat tata kota yang terencana dengan baik.
Di Eropa Barat, Paris dan Amsterdam turut menjadi contoh kota dengan budaya berjalan kaki yang kuat. Jalanan yang ramah pedestrian, ruang publik yang hidup, serta akses transportasi umum yang mudah membuat warga lebih memilih berjalan kaki untuk aktivitas sehari-hari.
Dari kawasan Asia, hanya beberapa kota yang berhasil masuk dalam daftar ini. Selain Seoul, ada Singapore yang dikenal dengan trotoar bersih dan tertata rapi. Kemudian Taipei dan Macau juga masuk berkat kombinasi antara aksesibilitas dan kenyamanan ruang publik.
Namun, tidak semua kota besar di Asia berhasil masuk dalam daftar tersebut. Jakarta, misalnya, masih belum mampu bersaing dalam hal walkability. Hal ini menjadi sorotan, mengingat Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara.
Beberapa faktor yang menjadi tantangan bagi Jakarta antara lain keterbatasan trotoar yang layak, konektivitas antarjalur pedestrian yang belum optimal, serta dominasi kendaraan bermotor di jalanan. Kondisi ini membuat berjalan kaki belum menjadi pilihan utama bagi sebagian besar warga.
Selain Jakarta, Kuala Lumpur juga belum masuk dalam daftar kota paling ramah pejalan kaki tahun ini. Padahal, kedua kota ini memiliki potensi besar untuk berkembang jika didukung oleh kebijakan yang tepat dan perencanaan kota yang lebih berfokus pada manusia.
Berikut daftar lengkap 20 kota paling ramah pejalan kaki di dunia tahun 2026 berdasarkan survei Time Out:
- Seoul
- Edinburgh
- New York City
- Copenhagen
- Oslo
- Stockholm
- Paris
- Singapore
- Helsinki
- Kraków
- Riga
- Vienna
- Amsterdam
- Tallinn
- Zurich
- Taipei
- Vancouver
- Macau
- Melbourne
- Munich
Melihat daftar tersebut, terlihat jelas bahwa kota-kota yang berhasil masuk memiliki satu kesamaan, yaitu komitmen terhadap pembangunan ruang publik yang ramah manusia. Mereka tidak hanya mengandalkan kendaraan bermotor, tetapi juga memberikan ruang yang layak bagi pejalan kaki.
Ke depan, konsep kota ramah pejalan kaki diperkirakan akan semakin menjadi fokus utama dalam perencanaan urban. Selain mendukung gaya hidup sehat, berjalan kaki juga membantu mengurangi polusi dan kemacetan.
Bagi kota-kota yang belum masuk dalam daftar, termasuk Jakarta, hasil ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk terus berbenah. Dengan perencanaan yang tepat, bukan tidak mungkin kota-kota tersebut dapat mengejar ketertinggalan dan menjadi lebih nyaman bagi pejalan kaki di masa depan.
Sumber : www.cnnindonesia.com
