Polisi memasang police line di SMPN 3 Sungai Raya yang dilempari bom molotov. (Foto: Dok. Istimewa)
Insiden pelemparan bom molotov terjadi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Peristiwa ini mengejutkan lingkungan sekolah karena pelaku diketahui merupakan siswa aktif di sekolah tersebut.
Kapolsek Sungai Raya AKP Hariyanto melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade membenarkan kejadian tersebut. Polisi telah mengamankan terduga pelaku untuk mencegah potensi bahaya lanjutan dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Kejadian berlangsung secara mendadak saat jam istirahat sekolah. Terduga pelaku datang ke area sekolah dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang telah disulut api. Percikan api dan kepulan asap sempat muncul, namun pihak sekolah bersama warga sekitar bergerak cepat melakukan penanganan awal sehingga api tidak menjalar ke bangunan utama sekolah.
Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pipit Rismanto mengungkapkan, berdasarkan pendalaman awal, pelaku diduga mengalami tekanan psikologis berat yang berkaitan dengan persoalan keluarga. Dalam kesehariannya di sekolah, anak tersebut dinilai berperilaku normal, namun kondisi keluarga menjadi faktor pemicu yang memengaruhi kesehatan mentalnya.
Diketahui, kakek dan ayah pelaku tengah menderita sakit, yang menimbulkan beban mental bagi anak tersebut. Meski sebelumnya sempat berada dalam pemantauan aparat, pengawasan tidak lagi dilakukan secara intensif seiring berkembangnya persoalan di lingkungan keluarga.
Karena pelaku masih berstatus anak di bawah umur, penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga diarahkan pada pembinaan serta penelusuran akar masalah psikologis dan sosial yang dialaminya.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri turut memberikan pendampingan dalam kasus ini. Densus 88 menyebut pelaku terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui keterlibatannya dalam grup daring bernama True Crime Community (TCC). Anak tersebut diketahui tertarik pada konten-konten kekerasan dan bergabung dalam komunitas tersebut.
Selain tekanan keluarga, pelaku juga diduga menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah. Kondisi ini disebut memicu keinginan balas dendam, yang kemudian dilampiaskan melalui aksi kekerasan di sekolahnya.
Dalam penggeledahan, aparat menemukan sejumlah barang berbahaya yang dibawa pelaku, antara lain enam botol berisi bahan bakar dan sumbu kain yang dirakit sebagai bom molotov, lima gas portabel yang ditempeli petasan dan paku, serta satu bilah pisau. Densus 88 mencatat setidaknya empat petasan sempat meledak saat kejadian dan diduga digunakan untuk memicu bom molotov.
Selain itu, polisi menemukan tas hitam milik pelaku yang dipenuhi tulisan nama-nama pelaku penembakan massal dari berbagai negara. Nama-nama tersebut antara lain Stephen Paddock, Adam Lanza, Seung-Hui Cho, Salvador Ramos, Luca Traini, hingga Brenton Tarrant. Tulisan lain seperti tagar TCC dan istilah #ZeroDay juga ditemukan, yang kerap dikaitkan dengan simbol kekerasan ekstrem.
Kasus ini kini ditangani Polda Kalimantan Barat dengan pendampingan Densus 88. Aparat menegaskan pentingnya perhatian bersama terhadap kesehatan mental anak, perundungan di sekolah, serta paparan konten kekerasan ekstrem di ruang digital.
