Presiden Prabowo Kembali Rombak Kabinet. Foto: pinterest.com - buletinmedia.com
Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan Kabinet Merah Putih. Sebanyak 18 pejabat dilantik dalam reshuffle yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Pergantian tersebut menyentuh sejumlah posisi strategis dalam pemerintahan, mulai dari menteri koordinator, menteri, wakil menteri, kepala lembaga, hingga pimpinan Kepolisian Republik Indonesia.
Reshuffle kali ini menjadi perombakan kabinet ketujuh sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden pada 2024.
Presiden Prabowo Melantik 18 Kabinet Baru
Pelantikan menteri dan wakil menteri dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 104/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih Periode 2024–2029.
Selain keputusan tersebut, terdapat sejumlah keputusan presiden lainnya yang menjadi dasar pengangkatan pejabat pada beberapa lembaga negara dan kepolisian.
Pergantian sejumlah posisi ini membuat susunan pemerintahan kembali mengalami perubahan di tengah berjalannya periode kedua tahun pemerintahan Presiden Prabowo.
Perombakan kabinet ini tidak muncul begitu saja. Sebelumnya, Presiden Prabowo memang telah melakukan evaluasi terhadap kinerja para menteri dan program pemerintah menjelang dua tahun masa pemerintahannya.
Dalam sidang kabinet pada Juli 2026, Presiden Prabowo menyebut evaluasi dilakukan untuk melihat program yang sudah berjalan sekaligus mencari bagian yang masih perlu diperbaiki dan dipercepat.
Namun, pemerintah saat itu menegaskan bahwa evaluasi tidak otomatis berarti akan ada reshuffle.
Dalam reshuffle kali ini, perubahan posisi juga terlihat berkaitan dengan penguatan sejumlah agenda pemerintah.
Salah satunya pembentukan posisi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang kini dijabat Bahlil Lahadalia, yang sekaligus tetap menjadi Menteri ESDM.
Bahlil menyebut hilirisasi dan transisi energi merupakan bagian dari Asta Cita yang perlu diperkuat dan dipercepat pelaksanaannya.
Perubahan juga tidak semuanya berarti pejabat lama keluar dari pemerintahan. Beberapa nama justru dipindahkan ke posisi lain.
Salah satu perubahan yang menonjol terjadi pada posisi menteri Luar Negeri menggantikan Sugiono. Sugiono berpindah dari Menteri Luar Negeri menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Sementara itu, perubahan besar terjadi di tubuh Polri setelah Listyo Sigit Prabowo tidak lagi menjabat Kapolri dan posisi tersebut kemudian diisi Suyudi Ario Seto.
Sebelumnya, Arrmanatha dikenal sebagai diplomat karier dan pernah menjabat sebagai wakil Menteri luar negeri. Sementara itu, Sugiono mendapat posisi baru sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Pergeseran tersebut membuat posisi Menlu kembali diisi oleh diplomat dengan pengalaman panjang di bidang hubungan internasional.
Reuters mencatat bahwa perubahan tersebut menjadi salah satu pergantian penting dalam reshuffle kali ini.
Perubahan juga terjadi pada posisi menteri koordinator lainnya. Bahlil Lahadalia dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Bahlil tetap merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Selain Bahlil, Dudung Abdurachman dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Sementara itu, Muhammad Sarmuji dipercaya menduduki posisi Menteri Perindustrian.
Di tingkat wakil menteri, Presiden Prabowo melantik beberapa nama baru. Drajad Hari Wibowo ditunjuk sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Dua nama sekaligus mengisi posisi Wakil Menteri Keuangan, yakni Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman. Pergantian juga dilakukan pada kementerian yang menangani sektor pertanian dan kelautan.
Muhammad Saleh Mustafa dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian, sedangkan Irwan Meilano mendapat tugas sebagai Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan.
Tidak hanya jajaran kementerian, perubahan besar juga terjadi di lingkungan kepolisian. Presiden Prabowo melantik Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Suyudi sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional. Setelah dilantik sebagai Kapolri, ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal Polisi.
Untuk posisi Wakapolri, Komjen Wahyu Hadiningrat dipercaya menggantikan posisi sebelumnya. Sementara itu, Listyo Sigit Prabowo yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolri mendapat tugas baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Sejumlah posisi di lembaga pemerintahan juga mengalami perubahan. Dedi Prasetyo dilantik sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional.
Aryanto Wibowo mendapat posisi sebagai Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, sedangkan Fadil Imran dilantik sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa.
Perubahan juga terjadi di Ombudsman Republik Indonesia. Nuzran Joher dilantik sebagai Ketua Ombudsman, sedangkan Radian Syam menjadi anggota Ombudsman.
Dengan demikian, rangkaian reshuffle tidak hanya menyentuh struktur kabinet, tetapi juga sejumlah lembaga pemerintahan dan posisi strategis lainnya.
Dalam satu rangkaian pelantikan tersebut, total terdapat 18 pejabat yang dilantik. Presiden Prabowo memimpin langsung pengambilan sumpah jabatan para pejabat di Istana Negara.
Perombakan kabinet ini berlangsung kurang dari sebulan sebelum pemerintahan Presiden Prabowo memasuki dua tahun masa kepemimpinannya.
Sejumlah posisi strategis mengalami perubahan dalam waktu yang berdekatan, termasuk posisi Menteri Keuangan pada September lalu dan Menteri Luar Negeri pada reshuffle terbaru.
Setelah dilantik, para pejabat baru mulai menjalankan tugas sesuai dengan jabatan masing-masing.
Pergantian tersebut juga membuat susunan Kabinet Merah Putih kembali mengalami penyesuaian, terutama pada bidang politik dan keamanan, hubungan luar negeri, hilirisasi dan transisi energi, perindustrian, keuangan, serta kepolisian.
Perubahan tersebut, perhatian selanjutnya tertuju pada pelaksanaan tugas para pejabat baru dan kebijakan yang akan dijalankan setelah pergantian posisi.
Pemerintah memasuki fase baru dengan susunan kabinet yang kembali mengalami perubahan di sejumlah sektor strategis. (Siti Ci Maemuna)
