Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, saat memimpin timnya pada laga Grup A Piala Dunia 2026 di Estadio Zakron, Zapopan, Meksiko, Jumat (19/6/2026) pagi WIB. (Sumber: AP Photo/Eduardo Verdugo)
Buletinmedia.com – Kegagalan Korea Selatan melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 membawa dampak besar bagi sepak bola Negeri Ginseng. Setelah tim nasional putra Korea Selatan tersingkir lebih awal dari turnamen, pelatih kepala Hong Myung-bo akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Keputusan tersebut diambil setelah Korea Selatan gagal memenuhi ekspektasi publik pada ajang Piala Dunia 2026. Padahal, sebelum turnamen berlangsung, tim berjuluk Taegeuk Warriors itu masih memiliki peluang untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur tim peringkat ketiga terbaik.
Harapan Korea Selatan untuk lolos ke babak berikutnya akhirnya berakhir pada Sabtu, 27 Juni 2026. Hasil pertandingan dari grup lain membuat peluang mereka tertutup dan memastikan langkah Son Heung-min dan kawan-kawan harus terhenti lebih cepat.
Tersingkirnya Korea Selatan dari Piala Dunia 2026 langsung memicu gelombang kritik di dalam negeri. Banyak pihak mempertanyakan performa tim, strategi kepelatihan, hingga proses pengambilan keputusan dalam tubuh sepak bola Korea Selatan.
Situasi tersebut bahkan mendapat perhatian dari Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Ia meminta adanya penyelidikan untuk mengetahui penyebab kegagalan tim asuhan Hong Myung-bo yang dinilai tidak sesuai harapan masyarakat.
Hong Myung-bo Mundur Sebagai Pelatih Timnas Korea Selatan
Setelah mendapat tekanan besar dari publik, Hong Myung-bo akhirnya menyatakan mundur sebagai pelatih kepala tim nasional Korea Selatan.
Hong menyampaikan permintaan maaf kepada para penggemar pada Minggu, 28 Juni 2026. Ia mengakui bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas hasil buruk yang diraih Korea Selatan di Piala Dunia 2026.
“Tanggung jawab sepenuhnya berada pada saya sebagai pelatih kepala,” ujar Hong Myung-bo dalam keterangannya.
Pelatih berusia 57 tahun tersebut mengatakan bahwa timnya tidak mampu memberikan hasil yang diharapkan oleh masyarakat Korea Selatan. Ia mengakui kekecewaan para penggemar merupakan hal yang harus diterima setelah perjalanan tim berakhir lebih cepat.
Dalam konferensi pers yang digelar di Meksiko, Hong menyampaikan bahwa keputusan mundur tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan sepak bola Korea Selatan sepenuhnya.
“Kami tidak memberikan hasil yang diharapkan para penggemar,” kata Hong.
“Meski saya meninggalkan tim nasional, saya tidak sepenuhnya meninggalkan sepak bola Korea. Saya akan mendukung tim nasional dari lubuk hati terdalam dan berharap tim ini kembali dipercaya dan dicintai oleh masyarakat,” tambahnya.
Korea Selatan Gagal Lolos dari Grup A Piala Dunia 2026
Korea Selatan berada di Grup A Piala Dunia 2026 bersama beberapa tim kuat. Dengan peringkat FIFA yang berada di posisi ke-32 sebelum turnamen dimulai, Korea Selatan datang dengan harapan besar untuk melangkah jauh.
Tim yang diperkuat kapten sekaligus bintang utama Son Heung-min tersebut sebenarnya masih memiliki peluang untuk lolos setelah menjalani pertandingan fase grup.
Namun, hasil akhir tidak berpihak kepada Korea Selatan. Mereka mencatatkan dua kekalahan dan hanya meraih satu kemenangan dalam tiga pertandingan fase grup.
Korea Selatan akhirnya finis di posisi ketiga Grup A, berada di belakang Meksiko dan Afrika Selatan yang masing-masing memiliki peringkat FIFA ke-15 dan ke-60.
Salah satu pertandingan yang menjadi sorotan adalah laga menghadapi Afrika Selatan pada Kamis, 25 Juni 2026. Dalam pertandingan tersebut, Korea Selatan harus menerima kekalahan dengan skor 0-1.
Kekalahan tersebut membuat posisi Korea Selatan semakin sulit. Meski masih memiliki peluang melalui aturan delapan tim peringkat ketiga terbaik yang dapat melaju ke babak 32 besar, harapan itu akhirnya sirna.
Pada Sabtu, 27 Juni 2026, hasil pertandingan dari grup lain memastikan Korea Selatan tidak masuk dalam daftar tim peringkat ketiga terbaik yang lolos.
Presiden Korea Selatan Minta Penyelidikan Usai Kegagalan Timnas
Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 mendapat perhatian serius dari pemerintah. Presiden Lee Jae Myung menyatakan dirinya terkejut dengan hasil yang diraih tim nasional.
Lee mengatakan bahwa tersingkirnya Korea Selatan lebih awal dari Piala Dunia 2026 bukan hanya masalah hasil pertandingan, tetapi juga berkaitan dengan aspek organisasi dan pengelolaan sepak bola nasional.
Dalam unggahan di platform X, Lee menyebut kegagalan tersebut sebagai persoalan yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Tersingkirnya timnas lebih awal tampaknya merupakan kegagalan organisasi dan personel,” tulis Lee.
Ia juga menyinggung pentingnya profesionalisme dalam proses pemilihan pemimpin olahraga.
“Ketika favoritisme dan kronisme lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih seorang pemimpin, hasilnya dapat diprediksi seperti api yang membakar kertas,” katanya.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat desakan agar dilakukan evaluasi terhadap Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) dan proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tim nasional.
Publik Soroti Penunjukan Hong Myung-bo
Nama Hong Myung-bo sebenarnya bukan sosok asing dalam sepak bola Korea Selatan. Sebagai pemain, ia merupakan salah satu legenda terbesar negara tersebut.
Hong menjadi bagian penting dalam keberhasilan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Saat itu, ia berperan sebagai kapten dan membantu tim mencapai semifinal, sebuah pencapaian bersejarah bagi sepak bola Asia.
Namun, perjalanan Hong sebagai pelatih tidak selalu berjalan mulus. Ketika menangani Korea Selatan pada Piala Dunia 2014, tim tersebut gagal melewati fase grup dan tidak berhasil meraih satu pun kemenangan.
Ketika Hong kembali dipercaya menjadi pelatih kepala tim nasional pada 2024, keputusan tersebut langsung menuai kontroversi.
Sebagian penggemar mempertanyakan proses pemilihannya. Mereka menilai keputusan federasi mengangkat Hong tidak melalui proses yang transparan dan menuding adanya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Para pendukung merasa Federasi Sepak Bola Korea Selatan mengabaikan sejumlah kandidat pelatih asing yang sebelumnya telah mengikuti proses seleksi.
Kritik tersebut kembali mencuat setelah Korea Selatan gagal di Piala Dunia 2026. Banyak penggemar menilai kegagalan tersebut merupakan akibat dari masalah yang sudah muncul sejak proses pemilihan pelatih.
Desakan Mundur dari Pendukung Timnas Korea Selatan
Tekanan terhadap Hong Myung-bo semakin besar setelah asosiasi pendukung tim nasional Korea Selatan mengeluarkan pernyataan keras.
Pada Senin, 29 Juni 2026, kelompok pendukung tersebut meminta Hong bertanggung jawab atas kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia.
Mereka menyerukan agar Hong meninggalkan dunia sepak bola Korea Selatan setelah hasil mengecewakan tersebut.
Menanggapi berbagai kritik, Hong mengatakan bahwa menerima kembali posisi sebagai pelatih kepala tim nasional bukan keputusan yang mudah.
“Menerima pekerjaan ini bukanlah pilihan yang mudah,” ujar Hong.
Ia menegaskan bahwa setiap keputusan yang dibuat selama menangani tim nasional selalu didasarkan pada pertimbangan terhadap perkembangan sepak bola Korea Selatan.
“Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan yang diambil sudah benar, tetapi saya bisa mengatakan bahwa saya membuat setiap keputusan dengan mempertimbangkan sepak bola Korea,” tambahnya.
Ancaman Keamanan Setelah Kritik terhadap Hong Myung-bo
Situasi setelah kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 bahkan berkembang hingga muncul ancaman keamanan terhadap Hong Myung-bo.
Menurut laporan media lokal, kepolisian Korea Selatan melakukan pemantauan terhadap keamanan di Bandara Incheon dan beberapa lokasi lainnya.
Langkah tersebut dilakukan setelah muncul ancaman pembunuhan secara daring yang ditujukan kepada Hong menjelang kepulangannya ke Korea Selatan.
Kasus tersebut menunjukkan tingginya tekanan publik terhadap sepak bola Korea Selatan setelah kegagalan di turnamen internasional.
Meski demikian, Hong tetap menyampaikan harapannya agar sepak bola Korea Selatan dapat bangkit dan kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Masa Depan Sepak Bola Korea Selatan Setelah Piala Dunia 2026
Tersingkirnya Korea Selatan dari Piala Dunia 2026 menjadi evaluasi besar bagi sepak bola negara tersebut.
Selain mencari pelatih baru, federasi juga menghadapi tantangan untuk memperbaiki sistem pengelolaan tim nasional agar mampu bersaing di level internasional.
Korea Selatan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia. Dengan banyaknya pemain berbakat dan pengalaman tampil di berbagai turnamen besar, masyarakat berharap kegagalan di Piala Dunia 2026 dapat menjadi pelajaran penting.
Pengunduran diri Hong Myung-bo menjadi awal dari perubahan yang kemungkinan akan dilakukan dalam tubuh sepak bola Korea Selatan.
Kini perhatian publik tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil federasi, termasuk proses evaluasi, pemilihan pelatih baru, serta strategi untuk membangun kembali kekuatan tim nasional Korea Selatan di masa depan.
Sumber : www.bbc.com
